Ketahanan Pangan Jadi Kunci Cegah Stunting sejak 1.000 HPK Anak

  • 17 Jul 2026 08:08 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menjadi faktor penting dalam upaya mencegah stunting sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Edukasi mengenai gizi seimbang, pola asuh, hingga pemanfaatan pangan lokal dinilai menjadi kunci dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas.

Hal tersebut disampaikan Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda, Jami’ah, S.P., dalam program Indonesia Cerdas RRI Pro 1 Pontianak, Rabu, 15 Juli 2026, yang mengangkat tema Anak dan Gizi: Hubungan Ketahanan Pangan dengan Pencegahan Stunting.

Menurut Jami’ah, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

"Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan," ujar Jami’ah.

Ia menjelaskan, penanganan stunting seharusnya dimulai sejak calon pengantin melalui edukasi kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, hingga pencegahan anemia. Setelah itu, perhatian berlanjut kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita agar memperoleh asupan gizi yang optimal.

Jami’ah menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berarti tersedianya makanan, tetapi juga mencakup kemudahan masyarakat mengakses pangan bergizi dan kemampuan memanfaatkan pangan secara tepat.

"Semakin baik ketahanan pangan keluarga, semakin besar peluang memenuhi kebutuhan gizi. Tetapi, tanpa edukasi yang baik mengenai pangan dan gizi, keluarga yang mampu secara ekonomi pun belum tentu terbebas dari stunting," katanya.

Menurutnya, masyarakat masih memiliki anggapan bahwa makanan bergizi identik dengan harga mahal. Padahal, Kalimantan Barat memiliki beragam pangan lokal yang kaya nutrisi dan mudah diperoleh.

Ikan air tawar, telur, tempe, tahu, sayuran hijau, pisang, pepaya, ubi, hingga jagung dinilai mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga apabila dikonsumsi secara beragam dan seimbang.

Jami’ah mengingatkan pentingnya menerapkan konsep B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) dalam pola konsumsi sehari-hari.

"Pangan bergizi tidak harus mahal. Yang penting adalah memilih pangan lokal yang tersedia di sekitar kita, mengolahnya dengan benar, dan mengonsumsinya secara beragam agar kebutuhan gizi tubuh terpenuhi," jelasnya.

Ia menambahkan, dalam satu piring makan ideal, sepertiga bagian diisi sumber karbohidrat, sepertiga lainnya sayur, sementara sisanya dibagi untuk protein dan buah agar kebutuhan gizi tercukupi.

Jami’ah juga menyoroti masih rendahnya konsumsi sayur dan buah di Kalimantan Barat, meski kebutuhan protein masyarakat relatif telah terpenuhi. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Selain itu, kebiasaan generasi muda mengonsumsi makanan cepat saji tanpa diimbangi sayur dan buah juga perlu mendapat perhatian serius.

"Generasi muda yang kelak menjadi calon orang tua harus memahami pentingnya pola makan sehat. Jangan bangga dengan makanan cepat saji, sementara pangan lokal yang jauh lebih segar dan bergizi justru diabaikan," ungkapnya.

Ia menilai edukasi mengenai gizi harus terus diperkuat, mulai dari keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, hingga pemerintah agar masyarakat memahami pentingnya pola makan sehat sejak dini.

Jami’ah turut mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga dengan menanam sayuran maupun memelihara ikan dan unggas.

Langkah sederhana tersebut diyakini mampu memperkuat ketahanan pangan rumah tangga sekaligus mendukung pemenuhan gizi keluarga secara berkelanjutan.

"Mari manfaatkan pangan lokal yang ada di sekitar kita untuk investasi masa depan anak bangsa. Stunting bukan karena faktor keturunan, tetapi lebih banyak disebabkan kurangnya asupan gizi dan pola asuh yang tepat," pungkasnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....