Cara Memandang Dunia agar Selamat di Akhirat

  • 15 Mei 2026 10:57 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak-Kehidupan di dunia ini adalah fase yang penting dalam kehidupan manusia, karena dunia tempat menentukan nasib seseorang di akhirat kelak. Hidup di dunia hanya sementara, tapi bila seseorang salah mengambil sikap dalam kehidupan dunia, maka akan sengsara di akhirat.

“Dunia berasal dari bahasa Arab yang bermakna rendah. Dunia adalah lawan dari akhirat. Menurut syech Nawawi Banten dalam kitabnya nasahiul ibad, beliau menyatakan bahwa dunia adalah sesuatu yang melebihi kebutuhan. Sebagaimana orang beragama, cara pandang tentang dunia selayaknya menyesuaikan dengan ajaran agama,” ujar Ustadz Wahyu Fitrahadi, S.Pd.I saat Hikmah Pagi di Pro 4, Jum’at, 15 Mei 2026.

Banyak dalil dalam alquran, hadist maupun makalah ulama terkait kehidupan dunia, bahwa Islam menghendaki agar seorang hamba tidak melupakan tujuan awal penciptaannya. Manusia diciptakan semata mata untuk beribadah kepada Allah. Allah SWT sudah menggariskan agar hambanya mengupayakan keseimbangan dunia dan akhirat.

“Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al Qashas ayat 77 : Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagian mu di dunia, berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada mu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan,” ujarnya.

Nabi saw mengajarkan doa agar mendapat hasanah fiddunya juga hasanah fil akhirah sebagaiman Qur’an surah al baqarah 201 “Di antara mereka ada juga yang berdoa, ya Tuhan kami berikanlah kami kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab api neraka,” ucapnya.

Maka doa memohon hasanah kebaikan di dunia dan akhirat menunjukkan semangat keseimbangan agar umat islam ini bahagia dunia maupun akhirat. Bukannya bahagia dunia, namun celaka di akhirat, ataupun susah selama hidup di dunia.

Dunia bermakna rendah dalam bandingannya dengan kehidupan akhirat dunia yang bersifat fana, tidak kekal, terbatas dan tidak selamanya. Umat islam meyakini adanya pertanggungjawaban atas perilaku selama di dunia sehingga manusia tidak diperbolehkan berbuat semena mena selama hidup di dunia.

“Allah SWT berfirman dalam surah al-ankabut ayat 64 : Dan kehidupan dunia hanyalah senda gurauan dan permainan, sesungguhya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya sekiranya mereka mengetahui,” ujarnya.

Dunia diumpamakan ladangnya akhirat, dunia tempatnya menanam, dan akhirat tempat memetik hasil dari apa yang ditanam semasa hidup di dunia. Maka bahagia dan celakanya seseorang tergantung dari baik dan buruknya perbuatan yang dilakukannya di dunia karena dunia merupakan perantara menuju akhirat.

“Di sini berlaku kaidah hukum penilaian baik maupun buruk nya suatu perantara yaitu dunia. Ketika yang dituju syurga dan ridhoNya, maka baiklah kehidupan dunia. Menginginkan syurga dengan cara yang tidak diridhoi Allah membuat buruknya kehidupan dunia,” katanya.

Manusia diciptakan di dunia maka perlu diusahakan agar kehidupan dunia ini dipenuhi dengan ibadah. Mulai dari bangun tidur, hingga tidur lagi diupayakan bernilai ibadah, untuk itu diniatkan semuanya untuk ibadah.

“Ibadah berkaitan dengan ketaatan. Maka kehidupan di dunia ini diupayakan diisi dengan kepatuhan pada aturan Allah serta berusaha keras tidak melanggar aturannya. Kemaksiatan, kejahatan, pelanggaran hak orang lain adalah bentuk ketidaktaatan atas aturan Allah dan pelanggaran ini pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan dan penindasan di muka bumi,” katanya, mengakhiri.

Baca juga: Sedekah Tak Mengurangi Harta, Ustazah Linda: “Allah Akan Melipatgandakan Rezeki”

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....