Hilangnya Rasa Malu di Media Sosial Jadi Alarm Moral
- 09 Mei 2026 05:23 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Kemajuan teknologi digital dinilai membawa dampak besar terhadap perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda. Hal tersebut disampaikan Dr. Bukhori,M.Pd., dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Pontianak dengan tema “Krisis Moralitas Umat di Era Digital” yang dipandu Host, Meiti, Rabu, 06 Mei 2026.
Dalam pemaparannya, ia menyebut perkembangan teknologi digital memang memberikan banyak manfaat, mulai dari kemudahan akses informasi hingga mendukung dakwah dan pendidikan. Namun di sisi lain, kemajuan tersebut juga memicu kemerosotan moral jika tidak digunakan dengan bijak.
“Kita hari ini berada di era digital yang ditandai kemajuan teknologi. Dunia yang luas ini seakan menjadi small village karena semua informasi bisa diakses secara langsung,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu dampak negatif yang paling terlihat adalah hilangnya rasa malu di ruang digital. Padahal, rasa malu merupakan bagian penting dari akhlak dalam Islam.
“Akhlak Islam itu salah satunya adalah al-haya atau rasa malu. Ketika rasa malu hilang, maka kontrol dalam diri manusia juga ikut hilang,” katanya.
Ia menyoroti maraknya konten di media sosial yang hanya mengejar viral tanpa mempertimbangkan nilai moral dan etika. Banyak pengguna media sosial mempertontonkan hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu demi mendapatkan perhatian publik.
“Sekarang banyak konten yang hanya mengejar FYP dan viral tanpa memperhatikan isi. Ini menjadi bukti adanya krisis moralitas di era digital,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyinggung fenomena penggunaan kata-kata kasar dan umpatan di media sosial maupun dunia gim daring yang semakin marak di kalangan anak muda.
“Dalam Islam, kata-kata kotor sangat dilarang. Nabi menyampaikan bahwa orang beriman hendaknya berkata baik atau lebih baik diam,” ujarnya.
Bukhori menegaskan, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama karena media digital kini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ia mengingatkan pentingnya menanamkan nilai keimanan dan kesadaran bahwa seluruh aktivitas manusia, termasuk di media sosial, tetap berada dalam pengawasan Allah SWT.
“Kita harus sadar bahwa apa yang kita lakukan, termasuk yang kita tulis di media sosial, semuanya akan dinilai dan dicatat oleh Allah,” katanya.
Selain penguatan iman, ia menilai peran keluarga menjadi sangat penting dalam mengontrol penggunaan gadget dan aktivitas digital anak-anak.
“Rumah adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Orang tua harus menjadi kontrol dalam penggunaan media digital,” jelasnya.
Dalam sesi tanya jawab, ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat menulis komentar di media sosial agar tidak terjerumus dalam gibah dan fitnah.
“Keselamatan seseorang di era digital juga bergantung pada bagaimana ia menjaga jari-jarinya saat mengetik,” ujarnya.
Ia turut menyoroti fenomena pamer kekayaan dan gaya hidup mewah di media sosial yang menurutnya dapat memicu kecemburuan sosial dan bertentangan dengan ajaran Islam.
“Gaya hidup berlebihan dan pamer kemewahan bukan bagian dari akhlak Islam. Kita dianjurkan hidup sesuai kebutuhan, bukan bermewah-mewahan,” tegasnya.
Di akhir dialog, ia mengajak masyarakat memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan konten positif dan edukatif agar ruang digital menjadi lebih sehat dan bermanfaat.
“Teknologi itu seharusnya menjadi sarana kebaikan. Kita yang harus mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi,” pungkasnya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....