Peran Ilmu dan Akhlak di Era Industri: Pentingnya Iman sebagai Fondasi Peradaban

  • 15 Apr 2026 22:30 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Perkembangan pesat di era industri menuntut manusia tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Sahrani, M.Pd dalam program “Mutiara Pagi” yang disiarkan oleh RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 14 April 2026.

Dalam pemaparannya, Ustadz Sahrani menegaskan bahwa ilmu dan akhlak merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban manusia. Ia mengibaratkan keduanya seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi.

“Ilmu dan akhlak itu seperti mata uang yang tidak bisa berdiri sendiri. Keduanya harus berjalan beriringan untuk membangun peradaban yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, ilmu memiliki peran penting dalam memuliakan manusia dan menjadi indikator kemajuan suatu bangsa. Namun, ilmu yang tidak dilandasi iman justru dapat membawa dampak negatif.

“Seseorang bisa saja memiliki ilmu tinggi, tetapi jika tidak didasari iman, maka ilmunya bukan menjadi cahaya, justru bisa menjerumuskan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti fenomena di masyarakat saat ini, di mana banyak orang berpendidikan tinggi namun tidak memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Bahkan, tidak sedikit yang justru menyalahgunakan pengetahuan untuk kepentingan pribadi.

“Betapa banyak orang pintar, bergelar tinggi, memiliki jabatan strategis, tetapi tidak membawa manfaat. Ini bukti bahwa ilmu tanpa akhlak tidak cukup,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Sahrani menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dilandasi keimanan dan diorientasikan untuk kemaslahatan umat. Ia juga mengingatkan pentingnya adab dalam mengamalkan ilmu.

“Ilmu harus dibalut dengan akhlak. Tanpa akhlak, ilmu tidak akan memberikan perubahan yang baik, baik untuk diri sendiri maupun orang lain,” tambahnya.

Dalam sesi tanya jawab, ia juga menjawab pertanyaan pendengar terkait komunikasi dengan orang yang telah meninggal. Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, ziarah kubur diperbolehkan dan bahkan dianjurkan, termasuk mengucapkan salam kepada ahli kubur.

“Orang yang sudah meninggal itu bisa menjawab salam kita, hanya saja kita tidak bisa mendengarnya. Jadi berbicara saat ziarah itu diperbolehkan,” jelasnya.

Di akhir sesi, Ustadz Sahrani mengajak para orang tua untuk lebih memperhatikan pendidikan anak, terutama dalam hal pembentukan iman, ilmu, dan akhlak di tengah tantangan era modern.

“Kita harus membekali anak-anak kita dengan iman, ilmu, dan akhlak. Tiga hal ini yang akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat,” pesannya.

Ia juga mendorong masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan pendidikan berbasis pesantren sebagai salah satu solusi dalam membentuk karakter generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....