Masjid Bukan Sekadar Tempat Ibadah

  • 14 Apr 2026 10:52 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Penguatan kelembagaan ekonomi berbasis masjid dinilai menjadi langkah strategis dalam mewujudkan kedaulatan pangan, khususnya di wilayah perbatasan. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Syarif Agussaid Alkadrie, SE,MM, dalam program siaran Mutiara Pagi, yang membahas peran masjid dalam pemberdayaan ekonomi umat, Senin, 13 April 2026.

Dalam pemaparannya, Ustadz Syarif menegaskan bahwa masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat ibadah. “Dalam sejarah Islam, masjid adalah pusat peradaban. Tidak hanya untuk salat, tetapi juga sebagai tempat belajar, bermusyawarah, hingga membangun kekuatan ekonomi umat,” ujarnya.

Ia menyoroti kondisi masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan Barat seperti Sambas, Sintang, Bengkayang, dan Sanggau yang masih bergantung pada produk pangan dari negara tetangga. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur ekonomi, akses program pemerintah, serta kebiasaan konsumsi masyarakat.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, kita tidak hanya kehilangan kemandirian ekonomi, tetapi juga melemahkan ketahanan masyarakat secara keseluruhan,” jelasnya.

Sebagai solusi, Ustadz Syarif menawarkan konsep penguatan lembaga ekonomi masjid melalui program “pengajian ekonomi”. Program ini mengintegrasikan nilai-nilai dakwah dengan praktik ekonomi, seperti pelatihan usaha, pengelolaan zakat produktif, hingga pengembangan UMKM berbasis jemaah.

“Pengajian ekonomi ini bukan hanya bicara ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengelola usaha, memahami ekonomi syariah, dan membangun kemandirian,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya peran dai sebagai agen perubahan sosial dan ekonomi. Menurutnya, dai tidak cukup hanya menyampaikan ceramah, tetapi harus mampu membimbing umat dalam aktivitas ekonomi.

“Dai harus menjadi katalis pemberdayaan. Melalui dakwah bil hal, mereka bisa menanamkan nilai kejujuran dalam berdagang dan mendorong masyarakat mencintai produk lokal,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat berbagai tantangan, seperti lemahnya manajemen masjid, minimnya literasi ekonomi di kalangan dai, serta belum optimalnya sinergi dengan pemerintah.

Untuk itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi Islam dalam memperkuat kapasitas dai dan kelembagaan masjid.

“Kami berharap pemerintah mulai melihat masjid sebagai mitra strategis, bukan hanya tempat ibadah. Masjid adalah aset sosial dan ekonomi yang sangat besar,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Ustadz Syarif mengajak masyarakat untuk memulai langkah sederhana, seperti membeli produk lokal dan mendukung UMKM sekitar.

“Setiap rupiah yang kita belanjakan untuk produk lokal adalah investasi bagi kedaulatan pangan kita bersama,” pungkasnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....