Balai Bahasa Kalbar Dorong Literasi lewat Cerita Anak Dwibahasa
- 16 Mar 2026 11:48 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) terus mendorong penguatan literasi sekaligus pelestarian bahasa daerah melalui program penulisan buku cerita anak dwibahasa. Program ini menghadirkan cerita anak dalam dua bahasa, yakni bahasa daerah dan bahasa Indonesia, agar generasi muda tetap mengenal bahasa ibunya sejak dini.
Dalam siaran program Insightainment, RRI Pro2 Pontianak, Jumat, 6 Maret 2026, penerjemah ahli dari Balai Bahasa Kalbar, Rizqi Syamsyiatun menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya pelestarian bahasa daerah yang mulai dijalankan sejak beberapa tahun terakhir. “Cerita anak dwibahasa adalah buku cerita yang ditulis dalam bahasa daerah lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Tujuannya agar anak-anak tetap mengenal bahasa daerah sekaligus memahami maknanya secara luas,” kata Rizqi.
Ia menjelaskan, sejak dimulai pada 2022 hingga 2025, Balai Bahasa Kalbar telah menerbitkan ratusan buku cerita anak dari berbagai bahasa daerah di Kalbar. Bahasa yang digunakan pun beragam, mulai dari Melayu Pontianak, Ribun, Dayak Kanayatn, hingga Melayu Kapuas Hulu.
Pada tahun ini, bahasa yang diangkat dalam program tersebut adalah Melayu Sambas. Antusiasme masyarakat pun meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Balai Bahasa bahkan menerima ratusan naskah cerita dari masyarakat yang ingin berkontribusi dalam program literasi ini.
“Antusiasmenya luar biasa. Tahun ini kami menerima ratusan naskah, tetapi yang dipilih hanya 40 karya terbaik untuk dibukukan,” ujar Rizqi.
Salah satu peserta yang lolos seleksi adalah Paturrachman, Duta Bahasa Kalbar. Ia menulis cerita berjudul Kumedah yang berarti “Ayo ke Sawah”, terinspirasi dari kehidupan pertanian di Kabupaten Sambas.
“Cerita ini saya buat dari pengalaman pribadi melihat proses bertani. Saya ingin anak-anak tahu bahwa sebutir nasi melalui proses panjang, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan makanan,” ucap Patur.
Menurutnya, cerita anak dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai budaya dan tradisi lokal kepada generasi muda. Dalam kisah yang ditulisnya, Patur juga memasukkan tradisi “Belale”, yaitu gotong royong masyarakat saat panen padi.
Balai Bahasa Kalbar berharap buku-buku tersebut nantinya tidak hanya dibaca oleh anak-anak di Kalbar, tetapi juga dapat diakses secara nasional bahkan internasional melalui platform digital Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Selain itu, buku cerita anak dwibahasa juga direncanakan menjadi bahan bacaan nonteks di sekolah dasar, sehingga dapat memperkaya literasi siswa sekaligus memperkuat identitas budaya daerah. Dengan program ini, diharapkan generasi muda tidak hanya gemar membaca, tetapi juga bangga menggunakan bahasa daerahnya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Baca juga: Balai Bahasa Kalbar Dorong Budaya Literasi Generasi Muda
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....