BKKBN Kalbar Perkuat Kolaborasi Cegah Stunting Berkelanjutan Daerah

  • 21 Jan 2026 13:45 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kolaborasi lintas sektor menjadi strategi utama BKKBN Kalbar dalam menekan angka stunting secara berkelanjutan. Upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan komprehensif melalui penanganan faktor spesifik dan faktor sensitif.

Faktor spesifik menjadi ranah Kementerian Kesehatan, sementara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) lebih berfokus pada faktor sensitif yang tidak berpengaruh langsung, namun memiliki faktor perantara seperti sanitasi, pengasuhan anak, serta pemenuhan gizi pada Seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Sekretaris Perwakilan BKKBN Kalimantan Barat, Rindang Gunawati, saat Dialog Pontianak Menyapa RRI, Rabu, 21 Januari 2026 menjelaskan bahwa peran BKKBN lebih ditekankan pada pencegahan sejak hulu, khususnya melalui kesiapan orang tua, terutama calon pengantin. Menurutnya, calon pengantin merupakan kunci awal dalam melahirkan generasi bebas stunting.

“BKKBN saat ini berperan meningkatkan kolaborasi lintas sektor, pendampingan, dan edukasi kepada keluarga berisiko stunting,” ujarnya saat Dialog Lintas Pontianak Pagi RRI Pontianak, Rabu, 21 Januari 2026.

Pendampingan tersebut menyasar calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, serta baduta yang termasuk dalam kelompok Seribu HPK. Satu diantara upaya edukasi yang dilakukan BKKBN adalah melalui aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil). Aplikasi ini berfungsi memantau kesehatan calon pengantin, khususnya remaja putri yang rentan anemia dan berisiko melahirkan anak stunting, serta memberikan edukasi kepada calon pengantin pria, termasuk terkait kebiasaan merokok.

Ketua Tim Kerja Peran Serta Masyarakat dan Pendayagunaan Lembaga Organisasi BKKBN Kalbar, Theodoros Tangkas Pangaraga, menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam pencegahan stunting. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri mengingat stunting memiliki banyak aspek yang saling berkaitan.

Sebagai bentuk penguatan kolaborasi, BKKBN menggagas Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang dimulai sejak 2024. Program ini melibatkan berbagai unsur pentahelix, mulai dari BUMN, BUMD, swasta, LSM, komunitas, media, perguruan tinggi, hingga perorangan.

Melalui program Genting, keluarga berisiko stunting mendapatkan bantuan prioritas berupa nutrisi, rumah layak huni, akses air bersih, serta edukasi. Dengan dukungan lintas sektor ini, BKKBN berharap angka stunting di Kalimantan Barat dapat terus ditekan.

Pada tahun 2025, BKKBN Kalbar menargetkan 10.987 keluarga berisiko stunting mendapatkan intervensi. Hingga akhir 2025, jumlah sasaran yang telah menerima intervensi tercatat mencapai 23.109 keluarga berisiko stunting.

Baca juga: Persagi Pontianak Gelar Edukasi Gizi Kejar Rekor MURI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....