Satgas Udara Semai 30 Ton Garam untuk Operasi Modifikasi Cuaca di Riau
- 27 Agt 2026 22:17 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru — Sebanyak 30 ton garam telah disebarkan dari udara dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Riau sepanjang Agustus 2026. Garam tersebut digunakan sebagai bahan semai awan untuk membantu memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah yang membutuhkan.
Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru Marsma TNI Abdul Haris mengatakan, pihaknya terus mendukung pelaksanaan OMC dengan mengerahkan pesawat yang tersedia. Operasi dilakukan berdasarkan data dan informasi cuaca dari tim terkait, termasuk BNPB.
"Di bulan ini saja, kami telah menyemai, mengembarkan 30 ton garam," ujar Abdul Haris, Kamis 27 Agustus 2026.
Menurut dia, penerbangan untuk penyemaian garam tidak hanya dilakukan pada siang hari. Tim juga siap bergerak ketika kondisi atmosfer dan keberadaan awan dinilai mendukung pelaksanaan operasi.
Bahkan, Lanud Roesmin Nurjadin pernah menerbangkan pesawat sekitar pukul 23.00 WIB setelah memperoleh informasi mengenai keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
"Kami siap untuk menerbangkan pesawat kami kapan pun, bahkan jam malam pun. Apabila kami menemukan awan yang berpotensi menghasilkan hujan, kemudian kami akan menerbangkan dan melakukan penyemaian di udara," katanya.
Abdul Haris menyebut penyemaian garam menjadi salah satu bagian dari upaya bersama untuk membantu menghasilkan hujan di tengah penanganan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Pihaknya juga mengoperasikan sebanyak 12 pesawat untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta operasi modifikasi cuaca di wilayah Riau.
Belasan pesawat tersebut terdiri dari sejumlah helikopter dan pesawat lainnya yang berasal dari berbagai unsur, termasuk BNPB, Kementerian Perhubungan, serta bantuan dari perusahaan pemegang konsesi.
"Alhamdulillah, hari ini kami mengoperasikan total 12 pesawat, terdiri dari pesawat dan helikopter. Ada juga pesawat dari BNPB, Kementerian Perhubungan, serta helikopter yang diperbantukan kepada kami dari perusahaan konsesi," ujar Abdul Haris.
Ia menjelaskan, operasi udara yang dilakukan mencakup tiga kegiatan utama. Salah satunya adalah patroli udara untuk memantau titik panas atau titik api di sejumlah wilayah.
Patroli dilakukan sejak pagi untuk memastikan titik-titik api yang sebelumnya terdeteksi masih ada atau sudah mengalami perubahan. Setelah patroli, helikopter kemudian dikerahkan untuk mendukung kegiatan pemadaman dari udara.
Selain patroli dan pemadaman, Lanud Roesmin Nurjadin juga aktif mendukung operasi modifikasi cuaca. Kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan informasi dan data cuaca yang disiapkan oleh BNPB.
"Alhamdulillah, selama beberapa waktu ini kami cukup berhasil melaksanakan patroli menggunakan cuaca. Tentunya ini tidak lepas dari bantuan teman-teman kami di BNPB, karena data cuaca disiapkan oleh BNPB," katanya.
Untuk mempercepat respons terhadap potensi kebakaran, Lanud Roesmin Nurjadin juga membentuk tim yang disebut tim pemburu api. Tim tersebut disiapkan untuk menerbangkan pesawat kapan pun diperlukan, termasuk pada malam hari.
Menurut Abdul Haris, pihaknya pernah menerbangkan pesawat sekitar pukul 23.00 WIB setelah memperoleh informasi mengenai kondisi awan yang berpotensi menghasilkan hujan dari tim BNPB. Pesawat kemudian dikerahkan untuk melaksanakan penyemaian bahan untuk modifikasi cuaca.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....