Belantara Foundation Dorong Bioekonomi Berkelanjutan
- 22 Mei 2026 08:08 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Belantara Foundation bekerja sama dengan Program Studi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Program Studi Biologi FMIPA, dan Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Pakuan menggelar Belantara Learning Series Episode 15 bertema “Bioprospeksi untuk Bioekonomi Berkelanjutan di Indonesia: Menjembatani Konservasi, Inovasi dan Keadilan Manfaat”, Rabu 20 Mei 2026.
Kegiatan yang digelar secara hybrid itu dipusatkan di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan serta diikuti peserta secara daring melalui Zoom dan siaran langsung Youtube Belantara Foundation. Sebanyak 968 peserta tercatat mengikuti kegiatan tersebut.
Belantara Learning Series Episode 15 digelar dalam rangka menyambut Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 yang diperingati setiap 22 Mei. Kegiatan ini mengangkat tema “Acting Locally for Global Impact” atau bertindak di tingkat lokal untuk dampak global, yang menyoroti pentingnya kolaborasi multipihak dalam menjaga dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, mengatakan bioprospeksi harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga dan masyarakat lokal memperoleh manfaat yang adil.
“Bioprospeksi tidak hanya berbicara tentang eksplorasi potensi ekonomi dari kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga memastikan masyarakat lokal sebagai penjaga utama hutan dan ekosistem memperoleh manfaat yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dolly yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan Universitas Pakuan menambahkan, transformasi menuju bioekonomi berkelanjutan membutuhkan dukungan regulasi, tata kelola yang baik, serta riset berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
Sementara itu, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, mengatakan pengembangan bioekonomi harus dilakukan secara terintegrasi mulai dari konservasi hingga hilirisasi.
“Pengembangan bioekonomi bukan hanya transformasi ekonomi, tetapi juga transformasi sosial yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat,” katanya.
Menurut Teguh, pemerintah telah memasukkan arah kebijakan pengembangan bioekonomi dalam RPJPN 2025–2045, RPJMN 2025–2029, dan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2025–2045 sebagai bagian dari pembangunan hijau nasional.
Rektor Universitas Pakuan, Didik Notosudjono, menegaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pengembangan bioprospeksi melalui riset berbasis biodiversitas lokal yang menghasilkan inovasi aplikatif bagi masyarakat dan industri.
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Hadi Sukadi Alikodra, menjelaskan bioprospeksi merupakan upaya penelusuran dan penelitian terhadap sumber daya hayati untuk menemukan senyawa, gen, maupun bahan aktif yang memiliki nilai ekonomi.
“Melalui komersialisasi bioprospeksi diharapkan dapat memperkuat ekonomi nasional secara berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian keanekaragaman hayati,” jelasnya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan sejumlah mitra dan melibatkan tujuh perguruan tinggi lain, di antaranya Universitas Riau, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala, Universitas Negeri Makassar, Universitas Antakusuma, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Muhammadiyah Kuningan melalui kegiatan nonton dan belajar bersama bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing kampus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....