Jangan Sebut Gagal, Katakan Belum Berhasil dan Terus Belajar

  • 25 Agt 2026 18:04 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kegagalan sering kali membuat seseorang berhenti mencoba. Ketika usaha yang dilakukan belum membuahkan hasil, tidak sedikit orang langsung menyebut dirinya gagal. Padahal, cara memandang kegagalan dapat memengaruhi semangat seseorang untuk kembali bangkit dan mencoba.

Hal tersebut disampaikan Dr. Laili Ramadani dari Dakwah Mandiri Riau, dalam Program Religi Night. Menurut Laili, kata “gagal” sebaiknya tidak menjadi akhir dari sebuah proses. Ia menyarankan agar seseorang menggantinya dengan kalimat “belum berhasil”.

"Hari ini saya belum berhasil. Jadi tambahkan kata ‘belum’. Ganti kata gagal dengan belum berhasil. Someday pasti berhasil,” ujar Dr. Laili Ramadani.

Menurutnya, ketika seseorang mengatakan “belum berhasil”, masih ada ruang untuk mencari tahu penyebabnya dan melakukan perbaikan. Jika keesokan harinya hasilnya masih belum sesuai harapan, kondisi tersebut tetap dapat dilihat sebagai bagian dari proses belajar.

Laili menjelaskan, setiap usaha yang belum berhasil tidak pernah benar-benar sama dengan kegagalan sebelumnya selama seseorang terus belajar. Selalu ada pengalaman, pengetahuan, atau cara baru yang diperoleh dari setiap percobaan.

“Yakinlah setiap step yang belum berhasil itu, dia pasti progress. Pasti ada pembelajaran lagi. Nggak ada itu gagal pertama, gagal kedua, gagal ketiga itu sama. Asalkan kamu belajar, tahu caranya,” jelasnya.

Ia juga mengaitkan proses tersebut dengan cara kerja otak. Menurut Laili, seseorang yang terus mencoba memberikan kesempatan kepada otaknya untuk berkembang lebih banyak dibandingkan orang yang memilih berhenti berusaha.

Laili mencontohkan sebuah penelitian yang melibatkan dua kelompok siswa dalam pembelajaran matematika. Kelompok pertama mampu menjawab soal dengan cepat dan benar dalam satu kali percobaan. Sementara kelompok kedua membutuhkan beberapa kali percobaan sebelum akhirnya mendapatkan jawaban yang benar.

Meski kelompok kedua sempat mengalami kesalahan, mereka justru mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk melatih otak. Setelah beberapa kali mencoba dan akhirnya berhasil, mereka juga menjadi lebih berani menghadapi tantangan berikutnya.

Dalam ilustrasi tersebut, kelompok yang berhasil menjawab dengan cepat cenderung memilih soal dengan tingkat kesulitan yang sama atau lebih rendah ketika diberikan pilihan. Sementara kelompok yang sebelumnya beberapa kali melakukan kesalahan justru lebih berani memilih soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi.

Menurut Laili, pengalaman menghadapi kesalahan membuat seseorang lebih terbiasa dengan proses mencoba kembali. Rasa malu karena pernah salah juga tidak lagi menjadi penghalang utama.

“Malu sudah tiga kali salah, sudah dihabisin rasa malunya di awal. Tapi ketika mereka sudah tiga kali usaha, akhirnya benar. Jadi bersyukurnya lebih luar biasa, ‘Wah, akhirnya bisa juga. Coba yang lebih tinggi dong’,” tuturnya.

Karena itu, Laili mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak buru-buru memberikan label gagal kepada diri sendiri. Ketika sebuah usaha belum berhasil, cari tahu masalahnya, pelajari kembali, lakukan perbaikan, kemudian mencoba lagi.

Dengan cara pandang tersebut, kegagalan bukan lagi menjadi alasan untuk berhenti, melainkan menjadi bagian dari proses untuk berkembang dan menjadi lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....