Puluhan Warga Rohul Luka Diserang, 28 Pekerja Masih Hilang di Kebun
- 16 Agt 2026 11:46 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Rokan Hulu — Polisi memburu kelompok orang yang menyerang puluhan pekerja di sebuah kebun sawit di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Dalam insiden yang terjadi pada Jumat 14 Agustus 2026 itu, sedikitnya 25 warga disebut mengalami luka-luka. Persoalan semakin mengkhawatirkan karena masih ada sekitar 28 pekerja yang disebut berada di dalam kawasan kebun dan belum diketahui kondisinya.
Para korban yang berhasil keluar dari lokasi kemudian mendatangi Polsek Tambusai Utara pada Sabtu 15 Agustus 2026 untuk melaporkan kejadian sekaligus menjalani pemeriksaan. Sejumlah korban terlihat mengalami luka pada bagian kepala, tangan, kaki, rusuk hingga mata. Beberapa di antaranya bahkan harus beristirahat di teras musala yang berada di sekitar kantor polisi karena masih menahan sakit.
Salah seorang korban, Gunawan (31), mengatakan penyerangan terjadi ketika dirinya dan sejumlah pekerja sedang berada di mess setelah membersihkan kebun. Menurut Gunawan, tiba-tiba datang sekelompok orang menggunakan tiga truk colt diesel dan dua mobil double cabin.
"Mereka berteriak 'serang', jadi kami langsung diserang," kata Gunawan, Minggu 16 Agustus 2026.
Ia mengaku dipukul menggunakan kayu dan besi hingga mengalami luka pada hidung dan tangan. Gunawan juga menyebut dirinya sempat diancam menggunakan senjata api dan dua telepon selulernya dirampas.
Korban lainnya, Rizaldi (44), mengalami luka lebih parah. Kepalanya mengalami luka terbuka, sementara kedua matanya merah dan bengkak setelah disebut ditendang oleh pelaku.
"Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu, mata saya ditendang," ujar Rizaldi.
Rizaldi mengatakan para pekerja tidak mampu memberikan perlawanan karena kelompok penyerang membawa senjata.
Setelah penyerangan, para korban disebut dikumpulkan dan dibawa keluar dari kawasan kebun menggunakan truk. Saat kendaraan melintas di depan Polsek Tambusai Utara, para korban berteriak meminta pertolongan.
Menurut Rizaldi, sekitar 25 orang mengalami luka dalam kejadian tersebut. Salah seorang korban disebut berada dalam kondisi kritis.
"Yang kami pikirkan kawan-kawan di dalam kebun sekitar 28 orang lagi. Belum tahu nasibnya sekarang," katanya.
Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz, mengatakan penyerangan tersebut diduga berkaitan dengan konflik pengelolaan lahan perkebunan sawit milik masyarakat.
Ia menyebut lahan yang dipersoalkan berada di Afdeling 19 dan 21 dengan luas sekitar 2.000 hektare. Menurut Aziz, sekitar 1.015 warga menggantungkan kehidupan mereka dari lahan tersebut.
Aziz menjelaskan, sebelumnya lahan itu dikelola PT Torganda melalui pola kerja sama dengan masyarakat. Pengelolaan kemudian melibatkan Koperasi Karya Bakti sebagai mitra.
Namun pada 2025, lahan tersebut disita oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) karena disebut berada dalam kawasan hutan. Pengelolaannya kemudian diserahkan kepada PT Agrinas Palma Nusantara.
Masyarakat, kata Aziz, kemudian berupaya mendapatkan kembali akses terhadap lahan yang mereka klaim sebagai milik warga.
"Kami ingin tahu dasarnya Agrinas mengatakan itu lahannya apa?" ujar Aziz.
Ia juga menuding adanya keterkaitan PT Agrinas Palma Nusantara dengan kelompok yang melakukan penyerangan. Namun, tudingan tersebut masih berupa dugaan dari pihak masyarakat dan belum terbukti.
"Kuat dugaan kami penyerangan itu didalangi oleh Agrinas," kata Aziz.
Dugaan tersebut, menurut Aziz, berkaitan dengan surat yang disebut dikirim kuasa hukum Agrinas kepada Polres Rohul pada 14 Agustus 2026.
Aziz menilai isi surat tersebut perlu diperiksa lebih lanjut karena disebut menyinggung kemungkinan terjadinya bentrokan.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Hasyim Risahondua membenarkan adanya penyerangan tersebut. Laporan telah diterima Polsek Tambusai Utara.
"Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku dan melengkapi berkas," kata Hasyim.
Dengan adanya laporan mengenai puluhan korban luka dan puluhan pekerja lain yang disebut masih berada di kawasan kebun, polisi kini dituntut mengungkap siapa kelompok yang melakukan penyerangan serta apa motif di balik kejadian tersebut.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani terkait dugaan keterlibatan perusahaan dalam insiden tersebut belum mendapat respons.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....