Coach Ricky Riskandi: Kunci Kualitas Pemain Ada pada Kualitas Pelatih

  • 24 Apr 2026 18:34 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Pelatih sepak bola nasional, Ricky Riskandi, menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelatih untuk mencetak talenta pesepak bola berbakat di Kota Palu. Hal ini disampaikan dalam sesi coaching clinic yang diikuti 35 pelatih lokal serta puluhan anak dari kelompok usia dibawah 15 tahun (U-15) dalam rangkaian Festival Sepak Bola Rakyat 2026 di Lapangan Sepak Bola Tipo, Kota Palu pada Jumat, 24 April 2026.

Ricky menjelaskan bahwa kualitas seorang pemain mustahil untuk meningkat jika pelatihnya sendiri tidak membekali diri dengan keilmuan terbaru. Menurutnya, pelatih harus menjadi contoh dalam hal kerja keras dan kemauan untuk terus belajar sebelum menuntut hasil maksimal dari anak asuhnya.

“Sangat mustahil menaikkan kualitas pemain jika pelatihnya sendiri tidak meningkatkan kualitas dirinya terlebih dahulu. Jika pelatih naik level, otomatis kemampuan anak-anak didik juga akan ikut meningkat,” ujarnya.

Selain memberikan arahan kepada para pelatih, Ricky juga memberikan pelatihan langsung kepada puluhan anak kelompok umur di bawah 15 tahun (U-15). Ia menyoroti pentingnya penanaman dasar atau basic sepak bola sejak dini sebagai pondasi utama sebelum memasuki tahap taktikal yang lebih rumit.

“Penanaman basic dalam sepak bola itu sangat krusial karena tanpa dasar yang kuat, skema taktikal apa pun tidak akan bisa berjalan. Jika dasar sudah dimiliki, pemain akan lebih mudah beradaptasi dengan pelatih atau situasi pertandingan apa pun saat dewasa nanti,” ucapnya.

Dalam sesi latihan tersebut, Ricky juga memperkenalkan metode latihan yang mengadopsi suasana pertandingan untuk meningkatkan intensitas bermain. Metode ini bertujuan agar para pemain terbiasa mengambil keputusan cepat di bawah tekanan, sebagaimana situasi yang terjadi di lapangan hijau sebenarnya.

“Latihan harus dibuat layaknya situasi pertandingan agar anak-anak terbiasa dengan tekanan level tinggi. Kalau latihan hanya dilakukan dengan intensitas rendah, kita akan sulit membawa pemain kita mencapai level profesional,” ucap Ricky.

Mengenai potensi di Sulawesi Tengah, ia mengakui bahwa talenta individu pesepak bola di Kota Palu sangat kompetitif dan tidak kalah dari pemain di Pulau Jawa. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah minimnya jam terbang dan pengalaman bertanding akibat kurangnya kompetisi yang teratur.

“Secara bakat di Palu ini sangat ada, namun yang membedakan adalah jam terbang karena minimnya antusiasme kompetisi. Keputusan bermain dan kematangan emosional seorang pemain hanya bisa dibentuk melalui atmosfer kompetisi yang rutin,” ucapnya.

Sebagai solusi, Ricky mengajak para pengelola Sekolah Sepak Bola (SSB) di Palu untuk proaktif menciptakan kompetisi skala kecil secara mandiri. Ia menyarankan agar antar-SSB secara rutin menggelar uji coba bersama tanpa harus menunggu turnamen besar dari pihak luar.

“Kita tidak bisa hanya menunggu kompetisi besar datang, sebetulnya sangat mudah bagi SSB di sini untuk berinisiatif membuat mini kompetisi setiap minggunya. Langkah kecil ini sangat penting untuk menjaga perkembangan dan mental bertanding anak-anak kita ke depan,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....