Donggala Dorong Festival Buya Subi Perkuat Tenun Daerah ke Pasar Global
- 08 Jul 2026 13:34 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Donggala – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Festival Buya Subi 2026 sebagai upaya memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus memperluas pasar Tenun Donggala hingga ke tingkat internasional.
Hal itu disampaikan Sekretaris Kabupaten Donggala Rustam Efendi saat menghadiri Festival Buya Subi 2026 yang digelar di Desa Wisata Towale, Banawa Tengah, Donggala, Selasa, 7 Juli 2026.
Kabupaten Donggala diketahui menjadi tuan rumah penyelenggaraan Festival Buya Subi 2026 yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Eco Fashion Week Australia (EFWA).
Rustam mengatakan festival tersebut tidak sekadar menjadi ajang menampilkan keindahan karya tenun, tetapi juga menjadi wujud kolaborasi antara pemerintah, pengrajin, pelaku industri kreatif, serta mitra nasional dan internasional dalam memperkenalkan Tenun Donggala kepada dunia.
“Festival ini bukan sekadar ajang menampilkan keindahan sebuah karya, melainkan wujud nyata semangat kolaborasi antara pemerintah, pengrajin, pelaku industri kreatif, serta mitra nasional dan internasional,” ujarnya.
Menurutnya, Tenun Donggala seperti Buya Subi dan Buya Bomba merupakan produk unggulan masyarakat yang telah memiliki Indikasi Geografis (IG). Tenun tersebut juga menjadi bagian dari kekayaan intelektual komunal yang hingga kini tetap mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya masyarakat Donggala.
Rustam menilai penyelenggaraan Festival Buya Subi turut menunjukkan adanya komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya agar tidak hanya dikenal saat festival berlangsung, tetapi terus berkembang sebagai identitas daerah sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Festival ini bukan hanya untuk merayakan keindahan kain, tetapi juga melestarikan warisan budaya agar tidak punah, memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM lokal, serta meningkatkan daya tarik wisata Donggala,” katanya.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 200 penenun yang tersebar di dua desa sentra tenun yaitu Desa Towale dan Limboro, Donggala. Dengan kemampuan produksi rata-rata satu lembar kain dalam dua pekan, potensi produksi tenun diperkirakan mencapai sekitar 400 lembar setiap bulan.
Olehnya, Pemkab Donggala mendorong penguatan tata kelola melalui pembentukan koperasi khusus tenun di desa sentra produksi. Menurut Rustam, langkah tersebut diharapkan mampu mendukung pemasaran sekaligus memanfaatkan peluang pasar yang semakin terbuka melalui kerja sama dengan Eco Fashion Week Australia.
Selain itu, ia juga berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus memberikan dukungan terhadap program optimalisasi pengembangan Tenun Buya Subi sehingga warisan budaya tersebut semakin dikenal di tingkat internasional dan mampu meningkatkan kesejahteraan para penenun di Kabupaten Donggala.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....