Festival Buya Subi 2026 Angkat Tenun Donggala ke Panggung Internasional

  • 08 Jul 2026 08:32 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Donggala – Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah menggelar Festival Buya Subi 2026 di Desa Wisata Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa, 7 Juli 2026. Kegiatan yang bekerja sama dengan Eco Fashion Week Australia (EFWA) tersebut menjadi upaya memperkenalkan Tenun Buya Subi sebagai warisan budaya Indonesia khususnya Kabupaten Donggala ke panggung fesyen internasional.

Festival bertaraf internasional itu menghadirkan puluhan desainer dan model dari dalam maupun luar negeri yang menampilkan karya busana berbahan dasar Tenun Buya Subi. Kegiatan tersebut juga melibatkan puluhan penenun tradisional sebagai bentuk apresiasi terhadap para pelestari warisan budaya lokal.

Pendiri Eco Fashion Week Australia (EFWA) Zuhan Kuval Mills mengatakan, ketertarikannya terhadap Tenun Buya Subi bermula saat bertemu perwakilan Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah di Busselton, Australia, pada 2024, kemudian kembali bertemu di Florence, Italia, pada 2025.

Menurutnya, berbeda dengan batik yang lebih dahulu dikenal dunia, Tenun Buya Subi memiliki karakter khas yang tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan cerita tentang masyarakat lokal, Suku Kaili, serta warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

“Dari situlah kami memulai Proyek Buya Subi. Seiring waktu proyek ini berkembang menjadi inisiatif yang sangat serius hingga didaftarkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam program women, fashion, and lifestyle,” ujarnya.

Zuhan menjelaskan, selama empat tahun terakhir EFWA aktif mempromosikan Tenun Buya Subi melalui berbagai pameran dan peragaan busana internasional bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Hingga 2026, promosi tersebut telah digelar di Perth, Canberra, dan Vancouver.

Selain memperkenalkan budaya Sulawesi Tengah ke dunia, kata dia, Proyek Buya Subi juga bertujuan membangun ekonomi hijau berbasis masyarakat dengan membuka peluang pendapatan bagi para perempuan penenun di Donggala.

“Buya Subi adalah milik masyarakat Donggala dan Sulawesi Tengah. Tugas kami hanya membawa kisah itu ke dunia dengan penuh rasa hormat. Kami ingin memastikan ketika masyarakat di Perth maupun Paris membeli produk Buya Subi, manfaat ekonominya kembali kepada para penenun di Donggala,” katanya.

EFWA juga mendorong pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi dan pelatihan teknis bagi generasi muda. Program tersebut mencakup keterampilan menenun, kewirausahaan, manajemen bisnis, hingga pengembangan pariwisata berbasis budaya guna menjamin keberlanjutan industri tenun di masa depan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah menegaskan Festival Buya Subi bukan sekadar agenda budaya, tetapi menjadi pernyataan kepada dunia bahwa Sulawesi Tengah memiliki warisan budaya bernilai tinggi yang mampu bersaing di industri fesyen berkelanjutan tingkat nasional maupun internasional.

“Insyaallah kami akan membicarakan dengan Dinas Pendidikan agar di SMK nanti ada jurusan khusus tenun. Kita harus menjaga keberlanjutan karena saat ini yang masih menenun sebagian besar adalah orang-orang tua kita,” ujarnya.

Wakil Gubernur mengajak para penenun untuk terus meningkatkan kualitas produk serta menghadirkan inovasi desain tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal. Ia turut mendorong generasi muda agar bangga menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan ekonomi kreatif daerah.

“Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus berkomitmen mendorong ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah. Saya mengajak generasi muda untuk bangga menggunakan produk lokal, baik Tenun Buya Subi maupun kain tradisional lainnya dari Sulawesi Tengah,” katanya.

Melalui Festival Buya Subi 2026, kata Reny, Pemerintah Provinsi berharap semakin banyak kerja sama strategis yang terbangun, mulai dari promosi pariwisata, penguatan UMKM, hingga terbukanya akses pasar internasional bagi produk unggulan Sulawesi Tengah. Festival ini juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi dalam membangun ekonomi kreatif yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....