Pimpin Doa Lintas Agama, Ketua FKUB Sulteng: Kita Rasakan Penderitaan Orang Lain
- 20 Jun 2026 14:27 WIB
- Palu
Poin Utama
- Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Zainal Abidin, memimpin doa bersama lintas agama
- Di Lapangan Imanuel Palu, Jumat malam 19 Juni 2026
- Sebagai wujud solidaritas mendalam pascagempa bermagnitudo 6,7 pada Selasa 16 Juni lalu
- Doa Bersama Lintas Agama Gempa Sulteng bertajuk “Satu Doa, Satu Hati, dan Satu Aksi”
RRI.CO.ID, Palu - Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Zainal Abidin, memimpin doa bersama lintas agama. Ini dilakukan bersama para pemuka agama Kristen, Katolik, Hindu dan Budha serta ribuan masyarakat yang memadati Lapangan Imanuel Palu, Jumat malam 19 Juni 2026.
Kehadiran masyarakat ini menyatu dalam agenda akbar Doa Bersama Lintas Agama Gempa Sulteng bertajuk “Satu Doa, Satu Hati, dan Satu Aksi”. Kegiatan ini, diselenggarakan Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Sulteng sebagai wujud solidaritas mendalam pascagempa bermagnitudo 6,7 pada Selasa 16 Juni lalu.
Zainal mengungkapkan, acara di Lapangan Imanuel ini awalnya direncanakan sebagai konser rohani dalam rangka perayaan Paskah. Namun begitu gempa bumi melanda, ia langsung mengarahkan kepanitiaan untuk mengubah total konsep acara demi menghormati para korban.
“Karena saudara-saudara kita baik yang seiman maupun yang tidak sedang tertimpa musibah, sehingga kita juga harus merasakan penderitaan orang lain," ucap Zainal saat memberikan sambutan sebelum proses sakral doa bersama lintas agama dimulai.
Menurut pakar kerukunan umat beragama ini, indikator utama dari hati yang bersih adalah kemampuan merasakan penderitaan orang lain. Di dalam Matius misalnya, Zainal menjelaskan ada salah satu ayat yang mengajarkan agar mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.
“Kita berdoa Bersama dan meminta kepada Tuhan agar saudara-saudara kita dikuatkan, diberikan ketabahan, dan kesabaran untuk menghadapi ujian ini,” ujarnya.
Zainal juga mengajak seluruh masyarakat bumi Tadulako, untuk memandang musibah ini sebagai alarm untuk memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial.
Prosesi sakral malam itu diawali dengan pembacaan doa yang dipimpin secara bergantian oleh para pemuka agama perwakilan dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Isak tangis dan rasa haru pecah di tengah lapangan, mengisyaratkan perbedaan suku, ras, dan teologi tidak lagi berjarak ketika dipertemukan dalam panggilan kemanusiaan. (KA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....