BMKG Pantau Potensi Fenomena El Nino Godzilla di Sulteng
- 28 Mar 2026 14:01 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu -Stasiun Pemantau Atmosfer Global Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lore Lindu Bariri terus memantau dinamika atmosfer global terkait munculnya isu fenomena El Nino Godzilla tahun ini. Isu tersebut menjadi perhatian serius karena diprediksi akan membawa dampak kekeringan yang lebih ekstrem bagi wilayah Indonesia.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, menjelaskan bahwa istilah Godzilla ini pertama kali dikemukakan oleh peneliti eksternal.
"Terminologi El Nino Godzila ini sebenarnya bukan istilah yang dikeluarkan oleh BMKG, istilah 'Godzila' ini pertama kali ditemukan oleh peneliti dari BRIN, pada awal Januari lalu bahwa Indonesia akan dilanda El Nino Godzila tahun ini," ucap Asep saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu, 28 Maret 2026.
Asep menjelaskan, menurut pantauan BMKG hingga akhir Maret 2026, kondisi suhu muka laut di Pasifik saat ini masih dalam keadaan netral dan diprediksi akan beranjak ke arah positif.
“Potensi kejadian El Nino sekitar 60 persen kemungkinan terjadi pada akhir Mei hingga periode Juni, Juli, dan Agustus,” ucapnya.
Fenomena El Nino terjadi ketika suhu muka laut mengalami anomali positif atau lebih hangat dari biasanya. Kondisi ini mengakibatkan massa uap air di Indonesia terdorong ke arah Pasifik Timur sehingga memicu terjadinya kekeringan yang lebih kering dari kondisi normal.
"Nah kalau kami dari BMKG sebenarnya belum merilis terkait kejadian ini, namun kita juga tidak menampik kemungkinan, karena kita BMKG tetap memantau semua perkembangan dinamika global atmosfir," ucap Asep.
Karakteristik wilayah Sulawesi Tengah dinilai cukup unik karena memiliki berbagai macam tipe hujan yang tidak seragam di setiap daerahnya. Di saat wilayah lain memasuki kemarau, beberapa daerah seperti Parigi Moutong dan Tolitoli justru baru akan memasuki musim hujan pada bulan April ini.
"Dampaknya memang tidak sama kalau di Sulawesi Tengah ini, karena karakteristik wilayah Sulawesi Tengah memang unik ada berbagai macam tipe hujan yang ada di Sulawesi Tengah," ucapnya.
BMKG mencatat potensi dampak El Nino ini dapat merambah ke berbagai sektor, mulai dari pertanian yang terancam gagal panen hingga sektor kesehatan. Penumpukan polusi udara dan debu pertambangan di atmosfer saat musim kemarau menjadi ancaman serius bagi penderita ISPA dan lansia.
"Untuk El Nino tahun ini, beberapa wilayah seperti pengalaman kita di beberapa kali El Nino sebelumnya misalnya 2024, memang dampaknya terutama di sektor pertanian ada beberapa wilayah yang sempat mengalami gagal panen," ucap Asep.
Sektor energi juga menjadi perhatian khusus mengingat pengalaman surutnya Danau Poso hingga 1,8 meter pada periode El Nino sebelumnya. Pemerintah daerah dan pelaku industri diharapkan mulai melakukan manajemen air bersih secara bijak sebelum memasuki puncak kemarau.
"Himbauan saya dari BMKG agar pemerintah daerah dan juga pelaku industri pertambangan dan energi listrik untuk mengisi embung, mengisi danau pada saat sekarang ini masih ada hujan dan kita lebih menghemat air," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....