Dialog Libu Muda Perkuat Harmoni di tengah Keberagaman
- 19 Mar 2026 19:51 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Sigi - Menyikapi kekhawatiran masyarakat tentang isu perpecahan, komunitas Libu Muda beberapa waktu lalu mengajak 40 orang muda dari berbagai latar belakang di Kabupaten Sigi dan Kota Palu mengikuti dialog keberagaman bertajuk “Menguatkan Peran Orang Muda Dalam Mencintai Keberagaman”. Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan mampu menjadi aktor kunci dalam mendorong perdamaian dan keamanan di tengah masyarakat yang majemuk.
Kegiatan yang diselenggarakan dengan dukungan The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia ini berlangsung di Bantaya atau Rumah Adat Desa Sibedi, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi. Dialog menghadirkan 40 peserta terpilih dari berbagai unsur, seperti komunitas akar rumput, Ansor Kabupaten Sigi, sanggar seni, mahasiswa, pecinta alam, remaja Islam masjid, hingga pemuda gereja.
Menurut Ahdiyat selaku PIC Program Community Action Grants YPS, inisiatif ini lahir dari keresahan orang muda yang hidup di wilayah dengan keragaman suku, budaya, dan agama yang sangat tinggi. Ia menilai, meskipun belum terjadi gesekan secara langsung, upaya deteksi dini tetap diperlukan untuk menjaga harmoni.
“Penting untuk dilakukan deteksi dini dan saling memperkuat sesama orang muda, sehingga mereka bisa menjadi aktor kunci dalam memperjuangkan dan mempertahankan perdamaian serta keamanan, khususnya di Sulawesi Tengah, Kabupaten Sigi dan Kota Palu,” ujarnya.
Sementara itu, pemantik pertama, Agnes Tarro, S.Pd.K, menjelaskan bahwa keberagaman mencakup banyak aspek, mulai dari ras, ideologi, suku, gender, agama, budaya, hingga bahasa. Ia menekankan bahwa Indonesia sebagai negara yang sangat beragam memiliki potensi konflik, namun juga menyimpan banyak manfaat jika dikelola dengan baik.
“Keberagaman itu bisa meningkatkan toleransi, empati, memperkaya pengetahuan dan pengalaman, serta membangun masyarakat yang harmonis. Tantangan kita adalah menghadapi sikap intoleran, yang biasanya muncul karena tidak adanya kemauan untuk memahami budaya dan tradisi orang lain,” jelasnya.
Pemantik kedua, Alam Sriyanto, S.Pd.I., M.Pd.I, mengangkat tema besar multikulturalisme sebagai harmoni di atas keberagaman. Ia menegaskan bahwa kunci utama menerima perbedaan terletak pada pola pikir dan keselarasan hati dalam memandang keberagaman.
“Sebesar apapun kita mengakui keberagaman, kalau mindset dan hati belum selaras, maka yang terjadi hanya kemunafikan. Apa yang disampaikan berbeda dengan apa yang dirasakan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Alam Sriyanto menjelaskan bahwa Indonesia sejak awal telah terbentuk dari keberagaman suku, budaya, dan keyakinan. Ia mengingatkan bahwa tanpa persatuan, perjuangan melawan kolonialisme tidak akan berhasil.
“Semangat nasionalisme dan kebinekaan menjadi dasar kuat hingga lahirnya Sumpah Pemuda. Indonesia adalah pelangi, Indonesia adalah kemajemukan. Jika tidak lagi plural, maka itu bukan Indonesia yang kita impikan,” tutupnya. (MDP)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....