Jejak Sejarah Masuknya Islam di Sulawesi Tengah
- 11 Feb 2026 13:25 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Masuknya Islam di Sulawesi Tengah berlangsung secara bertahap dan melalui jalur damai. Hal tersebut disampaikan Arkeolog asal Sulteng, Iksam Djorimi, dalam pemaparannya mengenai sejarah perkembangan Islam di wilayah tersebut.
Ia menjelaskan, Islam masuk ke Nusantara dalam dua gelombang besar, yakni ke wilayah Indonesia bagian barat seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Kemudian, berlanjut ke Indonesia bagian tengah dan timur, termasuk Sulawesi.
Berdasarkan temuan arkeologis terbaru, bukti Islam tertua di Sulawesi ditemukan di Kabupaten Banggai Kepulauan, tepatnya di Bulagi Selatan, Desa Lolantang, dan sekitar Toitoi. Di tempat itu, ditemukan makam Imam Syaban yang pada nisannya tertulis wafat tahun 168 Hijriah.
"Jika dikonversi ke Masehi, itu tahun 781 atau akhir abad ke-8, dan termasuk salah satu yang tertua di Indonesia,” ujar Iksam.
Selain itu, ditemukan pula nisan berangka abad ke-15 di wilayah Mendono, Kabupaten Banggai, serta bukti abad ke-16 di wilayah Buol dan Toli-Toli. Hal ini menunjukkan, Islam masuk ke Sulawesi Tengah secara bergelombang.
Menurut Iksam, Lembah Palu termasuk wilayah yang relatif terakhir menerima Islam di Sulawesi Tengah. Sejumlah peneliti menyebut, Islam diterima di Kerajaan Palu sekitar pertengahan abad ke-17 atau sekitar 1650.
Namun, peneliti asal Amerika Serikat, Gloria J. Davis, dalam disertasinya menyebut Islam telah masuk ke Lembah Palu pada 1602.
“Hal ini masuk akal karena jalur pelayaran melalui Selat Makassar menuju Donggala dan Teluk Palu sudah aktif sejak abad ke-15 dan ke-16, bahkan lebih intens pada abad ke-17,” ucap Iksam.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, penyebaran Islam di Palu berlangsung secara damai melalui dialog, bukan penaklukan. Salah satu tokoh penting dalam sejarah tersebut adalah Dato Karama dari Sumatera Barat, yang berdialog dengan Raja Palu saat itu, Pue Njidi dan Puan Kari.
“Dalam cerita rakyat, disimbolkan bahwa nilai hakikat Islam sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat Kaili, yang kemudian diperkuat dengan ajaran syariat,” katanya.
Dalam perkembangannya, Islam berasimilasi dengan budaya lokal Kaili, di mana tradisi yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam tetap dipertahankan. Misalnya, penggunaan mantra diganti dengan bacaan basmalah dan selawat, serta ritual adat yang disesuaikan waktunya agar tidak bertabrakan dengan salat wajib.
“Ini bentuk adaptasi yang harmonis antara adat dan agama,” tutur Iksam.
Proses penguatan ajaran Islam berlanjut hingga awal abad ke-20 dengan berdirinya Alkhairaat pada 1930 oleh Guru Tua, Syekh Idrus bin Salim Al-Jufri. Menurut Iksam, Guru Tua tidak serta-merta menghapus adat, namun memperkuat pemahaman syariat melalui pendidikan dan dakwah yang sistematis.
Dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini, Iksam menilai sejarah Islam di Palu memperlihatkan konsep “Tonda Talusi”, yakni kesatuan antara adat, agama, dan pemerintah. Tradisi menjelang Ramadan seperti ritual di bulan Rajab dan Syaban, menjadi contoh akulturasi tersebut.
“Adat dan agama tidak dipisahkan, tapi berjalan dalam satu koridor yang saling menguatkan,” ujar Iksam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....