Belajar Mitigasi Gempa Dari Kebiasaan Warga Negara Jepang

  • 01 Feb 2026 11:03 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Sebagai wilayah yang pernah porak-poranda akibat gempa bumi, Palu, Donggala, dan Sigi kembali menjadi perhatian publik seiring menguatnya isu Megathrust. Menyikapi hal tersebut, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Palu, Djati Cipto Kuncoro, S.Si., M.Ling, memberikan penjelasan ilmiah guna meluruskan pemahaman masyarakat.

Dalam dialog Sore Ceria PRO 2 RRI Palu, Djati menegaskan bahwa pembahasan Megathrust bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai upaya mitigasi dan antisipasi terhadap potensi gempa besar yang secara ilmiah memang dapat terjadi kapan saja.

“BMKG bukan peramal yang bisa menentukan jam atau hari terjadinya gempa. Namun, potensi itu ada secara ilmiah. Mari kita mencontoh masyarakat Jepang yang selalu siap dengan tas siaga kecil, tindakannya sederhana tapi manfaat keselamatannya besar,” ujar Djati.

Ia menjelaskan bahwa secara teori, potensi Megathrust di Indonesia memang ada dan harus disikapi dengan kesiapsiagaan, bukan ketakutan yang tidak berdasar. Masyarakat perlu memahami adanya siklus energi di dalam bumi, di mana gempa-gempa kecil justru diharapkan dapat melepaskan energi agar tidak terakumulasi menjadi gempa besar di masa depan.

Menurut Djati, proses akumulasi energi tersebut bisa berlangsung puluhan hingga ratusan tahun. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada namun tidak panik dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebagai contoh pembelajaran, Djati menyoroti budaya mitigasi di Jepang, di mana masyarakat terbiasa membawa tas siaga bencana berukuran kecil yang berisi perlengkapan penting seperti peluit darurat, senter, dan selimut praktis.

Budaya kesiapsiagaan mandiri ini ingin diadaptasi di Sulawesi Tengah melalui semangat Mitigasi Cerdas, yang Muda Berdaya. BMKG Palu secara aktif merangkul generasi muda agar menjadi agen perubahan dan garda terdepan dalam menyuarakan aksi tanggap bencana.

Dengan penguasaan informasi yang benar, generasi muda diharapkan mampu memutus penyebaran hoaks terkait gempa dan tsunami yang kerap meresahkan masyarakat. Melalui penguatan edukasi dan kolaborasi antara teknologi BMKG dan kesadaran publik, Sulawesi Tengah diharapkan menjadi wilayah yang semakin tangguh menghadapi ancaman geofisika ke depan. 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....