Kemendikdasmen Perkuat Dukungan Psikososial Penyintas Bencana Alam

  • 19 Nov 2025 20:58 WIB
  •  Palu

KBRN, Palu: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) memperkuat dukungan psikososial bagi peserta didik terdampak bencana di Sulawesi Tengah. Program ini merupakan kolaborasi Direktorat PKPLK bersama Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk memastikan layanan pemulihan psikologis yang tepat bagi anak di wilayah terdampak bencana.

Program dukungan psikososial ini dibuka secara resmi oleh Direktur PKPLK, Saryadi di Aula Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Tengah, Rabu (19/11/2025). Kegiatan berlangsung mulai 19-26 November 2025 dengan sasaran siswa dari berbagai jenjang yang mengalami masalah psikologis pascabencana di Kabupaten Poso hingga guru.

Dalam Konferensi pers usai pembukaan, Saryadi mengatakan Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap bencana. Ia merujuk data BNPB yang mencatat lebih dari 2.700 kejadian bencana hingga awal November 2025, baik bencana alam maupun sosial.

Baca Juga: Program Dukungan Psikososial Masyarakat Penyintas Bencana Gempa Poso

Ia menjelaskan pemerintah telah menetapkan tiga klaster penanganan bencana, yaitu prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana. Pada tahap prabencana, PKPLK berfokus membangun mitigasi risiko melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana.

“Kita ingin membangun ketangguhan satuan pendidikan dalam menghadapi bencana. Selain para guru, para siswa juga akan dibekali bagaimana bersikap ketika terjadi bencana,” ungkapnya.

Pada tahap tanggap darurat, pihaknya turut memberikan dukungan langsung bagi satuan pendidikan yang terdampak. Dukungan tersebut mencakup penyediaan tenda darurat, school kit, serta pengiriman relawan pendidikan untuk memastikan pembelajaran tetap berlangsung.

Lebih lanjut ia mengatakan , Program Dukungan Psikososial yang dilaksanakan di Palu dan Poso merupakan respon terhadap kondisi emosional anak penyintas bencana, khususnya pascagempa di Desa Ueralulu, Kecamatan Poso Pesisir pada 17 Agustus 2025, serta bencana di Tentena pada awal November yang berdampak pada sejumlah sekolah.

“Data yang dihimpun HIMPSI menunjukkan adanya masalah emosional pada anak-anak di daerah bencana. Hal ini tidak akan kita ketahui tanpa asesmen dari para pakar,” ucapnya.

Baca Juga: Pemkot Palu Dorong Penguatan Wisata Berbasis Riset

Ia menegaskan bahwa kolaborasi dengan HIMPSI sangat strategis karena keahlian para psikolog dibutuhkan dalam pemulihan psikososial peserta didik. Melalui kerja sama tersebut, anak-anak tidak hanya menerima layanan pemulihan, tetapi juga pembekalan simulasi penyelamatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan satuan pendidikan.

“Kami sangat terbantu dengan kerja sama ini untuk memastikan anak-anak terdampak bencana tertangani psikososialnya, sekaligus meningkatkan ketangguhan satuan pendidikan menghadapi bencana,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat HIMPSI Andik Matulessy mengatakan pihaknya memberikan dukungan psikososial bagi penyintas bencana melalui asesmen an intervensi psikologis. Ia menyebut sebanyak 456 siswa di Kabupaten Poso mengalami masalah psikologis usai bencana alam.

"Sebagian besar mereka memang mengalami kecemasan, ketegangan dan kekhawatiran itu, kalau itu tidak segera dilakukan intervensi maka tentunya akan semakin akut dan akan memberikan dampak yang berkepanjangan," jelasnya.

Ia menambahkan pihaknya memberikan program dukungan psikososial berupa trauma healing bagi siswa sebagai upaya untuk memulihkan kondisi psikologis. Selain itu para guru juga diberdayakan melalui pelatihan peningkatan kapasitas dalam bantuan psikologis awal bagi siswa yang terdampak bencana. (Sidik)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....