Pia, Akulturasi Kuliner yang Berbuah Manis
- 26 Jan 2026 08:31 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Kue pia, camilan bundar yang sederhana ini, menyimpan sejuta cerita di balik kulitnya yang renyah. Setiap gigitan menjanjikan perpaduan tekstur yang unik antara garing di luar dan lembut di dalam, membuatnya tetap eksis melintasi berbagai generasi di Indonesia.
Secara historis, pia sebenarnya bukan merupakan penganan asli dari kepulauan Nusantara ini. Nama pia berasal dari bahasa Hokkien yaitu tou luk pia, yang secara harfiah berarti kue kacang hijau.
Para imigran Tionghoa membawa resep ini saat mereka mulai menetap di berbagai wilayah di Indonesia. Awalnya, kue ini memiliki ukuran yang lebih besar dan isian yang sangat sederhana, lalu bertransformasi menjadi identitas kuliner lokal.
Proses akulturasi budaya, membuat pia mengalami modifikasi yang cukup signifikan agar sesuai lidah lokal. Jika di negeri asalnya pia sering berisi lemak babi, di Indonesia isiannya diganti dengan bahan halal.
| Baca juga: Batagor, Warisan Rasa yang Melekat di Hati |
Kacang hijau kupas yang dimasak dengan gula menjadi pilihan utama yang paling legendaris. Penggunaan minyak kelapa juga sering menggantikan minyak hewani untuk menghasilkan aroma yang lebih khas.
Rahasia kelezatan pia terletak pada teknik pembuatan kulitnya yang berlapis-lapis atau disebut flaky. Pembuat kue harus menyiapkan dua jenis adonan, yaitu adonan berbahan dasar tepung dan adonan lemak.
Keduanya kemudian digabung dan dilipat berkali-kali secara manual untuk menciptakan efek lapisan yang tipis. Jika teknik pelipatannya salah, kulit pia akan terasa keras dan tidak renyah saat dikunyah. Kesabaran adalah bumbu rahasia utama yang tidak tertulis dalam lembar resep manapun.
Seiring berjalannya waktu, varian isian pia tidak lagi terbatas pada kacang hijau saja. Inovasi kuliner membawa rasa baru seperti cokelat leleh, keju gurih, hingga buah-buahan eksotis. (JRL)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....