Pola Makan Buruk Picu Gangguan Lambung

  • 31 Mei 2026 19:30 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Sakit perut merupakan gangguan kesehatan yang sering dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dapat menyerang anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dengan penyebab yang berbeda-beda. Rasa sakit yang muncul biasanya berada di bagian perut tertentu dan dapat disertai mual, muntah, diare, atau perut kembung.

Penyebab sakit perut sangat beragam, mulai dari gangguan ringan hingga penyakit tertentu. Berikut beberapa penyebab yang paling umum:

  • Makanan tidak higienis → dapat menyebabkan infeksi bakteri atau keracunan makanan.
  • Telat makan → memicu asam lambung naik dan menyebabkan nyeri perut.
  • Makanan pedas atau berminyak → membuat lambung iritasi.
  • Diare atau sembelit → mengganggu sistem pencernaan dan menimbulkan rasa sakit.
  • Stres dan kelelahan → dapat memengaruhi kesehatan lambung.
  • Infeksi virus atau bakteri → sering menyebabkan mual, muntah, dan diare.
  • Maag atau asam lambung → menimbulkan perih pada bagian ulu hati.
  • Kurang minum air putih → dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

Makanan yang tidak bersih menjadi salah satu penyebab utama sakit perut di masyarakat. Bakteri dan virus yang terdapat pada makanan atau minuman dapat masuk ke tubuh dan menyebabkan gangguan pencernaan.

Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, kurang minum air putih, dan jarang berolahraga membuat sistem pencernaan bekerja tidak optimal. Karena itu, menjaga pola hidup sehat sangat penting untuk mencegah gangguan pada lambung dan usus.

Untuk mengurangi risiko sakit perut, masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan makanan dan lingkungan sekitar. Mencuci tangan sebelum makan, mengonsumsi makanan bergizi, serta menghindari jajanan sembarangan dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan.

Apabila sakit perut berlangsung lama atau disertai gejala berat seperti demam tinggi dan muntah terus-menerus, segera periksakan diri ke dokter. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah komplikasi penyakit yang lebih berbahaya. (SA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....