Anemia dan Hipotensi Jangan Disamakan Lagi
- 28 Feb 2026 22:12 WIB
- Palu
RRI.CO.ID - PALU : Masih banyak masyarakat yang menganggap kurang darah dan tekanan darah rendah adalah kondisi yang sama. Padahal secara medis, keduanya berbeda jauh, baik dari segi penyebab, mekanisme, hingga cara penanganannya.
Dilansir dari laman Halodoc, Kurang darah atau Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan hemoglobin atau sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi ini berkaitan dengan kualitas darah. Gejalanya cenderung menetap dan berlangsung lebih lama, seperti tubuh terasa lemas sepanjang hari, wajah pucat, mudah lelah, hingga jantung berdebar.
Sementara itu, tekanan darah rendah atau Hipotensi berkaitan dengan tekanan aliran darah pada dinding arteri yang terlalu rendah. Ini berhubungan dengan kekuatan pompa jantung. Gejalanya sering muncul mendadak, misalnya pandangan terasa gelap atau kepala berkunang-kunang saat tiba-tiba berdiri—kondisi yang dikenal sebagai hipotensi ortostatik.
| Baca juga: Kurang Zat Besi Sering Tak Disadari |
Perbedaan lainnya terletak pada cara diagnosis. Anemia hanya bisa dipastikan melalui pemeriksaan darah lengkap atau Complete Blood Count (CBC) untuk melihat kadar hemoglobin. Sedangkan hipotensi didiagnosis dengan pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter. Artinya, tidak cukup hanya menebak dari gejala semata.
Cara Mengatasi dan Mencegah Kurang Darah
Untuk mengatasi anemia, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperbaiki pola makan dan gaya hidup. Asupan zat besi menjadi kunci utama. Konsumsi daging merah tanpa lemak, hati ayam, bayam, serta kacang-kacangan sangat dianjurkan untuk membantu meningkatkan produksi sel darah merah.
Selain itu, vitamin C juga berperan penting karena membantu penyerapan zat besi secara maksimal. Mengonsumsi jeruk atau tomat bersamaan dengan makanan tinggi zat besi bisa menjadi pilihan sederhana namun efektif.
Sebaliknya, hindari minum teh atau kopi saat makan karena kandungan tanin di dalamnya dapat menghambat penyerapan zat besi. Bila diperlukan, dokter dapat meresepkan tablet tambah darah atau suplemen asam folat, terutama pada kasus Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan anemia akibat kekurangan folat.
Penanganan juga harus disesuaikan dengan penyebabnya. Jika anemia dipicu oleh infeksi atau penyakit kronis, maka pengobatan penyakit dasarnya menjadi prioritas utama.
Jangan Anggap Sepele
Ciri-ciri kurang darah tidak boleh diabaikan. Sel darah merah adalah “kurir” oksigen bagi seluruh tubuh. Jika jumlahnya kurang, organ-organ vital tidak mendapatkan suplai oksigen yang optimal. Dampaknya bisa menurunkan produktivitas hingga memicu komplikasi bila dibiarkan.
Dengan mengenali gejala seperti lemas berkepanjangan, pucat, dan jantung berdebar, masyarakat diharapkan lebih waspada dan tidak lagi salah kaprah menyamakan anemia dengan tekanan darah rendah. Diagnosis yang tepat akan menentukan langkah penanganan yang benar.(UKJ)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....