Literasi Keuangan Ditingkatkan Lewat Peran Dosen

  • 14 Apr 2026 21:50 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu – Program peningkatan literasi keuangan terus didorong melalui pendekatan kampus sebagai strategi sistemik di Indonesia Timur. Inisiatif ini menargetkan dosen dan tenaga kependidikan sebagai agen perubahan finansial yang berdampak luas bagi masyarakat.

Kegiatan Associate Wealth Planner Syariah (AWPS) Batch 10 yang diselenggarakan oleh PT Hannah Asa Indonesia digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu pada 13 hingga 14 April 2026. Program ini melibatkan peserta dari Fakultas Sains dan Teknologi serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam.

Program ini hadir sebagai respons atas kesenjangan antara tingkat inklusi keuangan yang tinggi dengan literasi keuangan masyarakat yang masih perlu ditingkatkan. Melalui pendekatan berbasis kampus, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik dalam memahami serta mengimplementasikan pengelolaan keuangan secara tepat.

Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Lukman Thahir, menegaskan pentingnya transformasi peran dosen dalam menghadapi perubahan sosial ekonomi saat ini.

“Dosen tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai educator, mentor, dan advisor dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

Ia menilai kemampuan membimbing pengelolaan keuangan menjadi relevan untuk menjawab tantangan literasi dan inklusi keuangan nasional. Perguruan tinggi disebut memiliki posisi strategis dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademik dan praktik finansial masyarakat luas.

Pendiri Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menekankan bahwa literasi keuangan harus melampaui pemahaman menuju perubahan perilaku nyata.

“Literasi tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menjadi sistem dan perilaku dalam pengambilan keputusan finansial,” katanya.

Ia menjelaskan, melalui program AWPS, peserta dibekali materi perencanaan keuangan syariah, manajemen utang, pengelolaan zakat, hingga simulasi keuangan berbasis aplikasi. Pendekatan ini dilakukan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, wilayah Indonesia Timur masih menghadapi tantangan literasi keuangan di bawah rata-rata nasional sehingga membutuhkan pendekatan kontekstual. Program ini diharapkan melahirkan financial educator berbasis profesi yang mampu memperkuat kualitas keputusan finansial masyarakat secara berkelanjutan.




google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....