Krisis Lagu Anak Dinilai Ancam Keberlanjutan Budaya dan Bahasa Daerah

  • 07 Okt 2026 13:29 WIB
  •  Palu
Poin Utama
  • Berkurangnya kebiasaan anak mendengarkan dan menyanyikan lagu anak tidak hanya masalah hiburan, tetapi juga mengancam pewarisan budaya dan bahasa daerah.
  • Ketua Libu Mombine Kota Palu, Nurmiati H. Habibu, menekankan bahwa lagu anak merupakan bagian integral dari budaya yang tidak dapat dipisahkan dari proses pewarisan nilai.
  • Lagu anak-anak memiliki peran penting dalam transmisi nilai-nilai keluarga dan lingkungan masyarakat kepada generasi penerus.

RRI.CO.ID, Palu - Berkurangnya kebiasaan anak mendengarkan dan menyanyikan lagu yang sesuai dengan usianya dinilai tidak hanya menjadi persoalan hiburan. Lebih dari itu, juga berpotensi memperlemah pewarisan budaya dan bahasa daerah kepada generasi berikutnya.

Ketua Libu Mombine Kota Palu, Nurmiati H. Habibu, menyebut lagu anak merupakan bagian dari budaya yang tidak dapat dipisahkan dari proses pewarisan nilai dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

“Jadi lagu anak itu bagian dari budaya dan termasuk bagian dari budaya,” kata Nurmiati saat dihubungi RRI, Selasa, 6 Oktober 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena budaya dan bahasa daerah juga semakin tergerus. Ia mencontohkan, bahasa Kaili yang dinilai semakin berkurang penggunaannya di wilayahnya sendiri.

“Jangankan lagu, bahasa ini sendiri bagian dari budaya kan makin lama makin hilang karena semakin tergerus,” ujarnya.

Nurmiati juga menyoroti perubahan kebiasaan dalam keluarga. Menurutnya, tradisi lisan seperti orang tua menyanyikan lagu atau bersenandung untuk menidurkan anak kini semakin tergeser penggunaan gawai.

“Kalau dulu kan orang tua bersenandung, menyanyikan lagu-lagu anak sampai bisa tidur, meski lagu itu kadang berasal dari cerita,” ucap Nurmiati.

Ia pun menilai, tradisi tersebut tidak harus dipertahankan dalam bentuk lagu yang sama seperti masa lalu. Orang tua tetap dapat berkreasi dengan membuat senandung atau lagu sederhana untuk anak, selama mengandung pesan positif.

“Senandungnya punya nasihat, mengandung nasihat, dan doa,” tuturnya.

Nurmiati mendorong keluarga kembali menjadikan lagu sebagai bagian dari interaksi dengan anak. Menurutnya, lagu dapat menjadi media untuk mendekatkan orang tua dan anak, sekaligus mengenalkan unsur budaya sejak usia dini.

Nurmiati menegaskan, upaya mempertahankan lagu anak merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya keluarga atau pendidik. Hal ini menjadi penting, dinilai penting agar generasi muda tidak menjadikan konten media sosial sebagai satu-satunya rujukan hiburan dan budaya. (KA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....