Mengenal Anak Pemalu dan Cara Membantunya Lebih Percaya Diri
- 06 Okt 2026 20:43 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Rasa malu merupakan salah satu kondisi yang dapat dialami anak, termasuk ketika berada di lingkungan sekolah. Kemampuan anak dalam bersosialisasi dan berinteraksi berbeda-beda, sementara sifat pemalu dapat berkaitan dengan pengalaman hidup, pola asuh orang tua, maupun karakter yang telah dimiliki sejak lahir.
Sifat pemalu pada anak dapat muncul dalam beberapa kondisi. Anak dengan kepribadian introvert umumnya lebih nyaman menghabiskan waktu sendiri, sedangkan rasa malu dalam tahap perkembangan tertentu dapat terjadi ketika anak berada di lingkungan baru dan berangsur berkurang setelah beradaptasi. Rasa malu juga dapat berkaitan dengan ketakutan mengalami kegagalan atau membuat orang lain tidak senang, sementara kondisi yang lebih berat dapat berhubungan dengan pengalaman keras, perundungan, pola asuh yang salah, gangguan kecemasan, maupun trauma.
| Baca juga: Pola Pikir Positif Kunci Hadapi Era Digital |
Pada usia sekolah, anak yang pemalu dapat menunjukkan sejumlah tanda, di antaranya menghindari kontak mata, selalu berada di dekat orang tua atau pengasuh, ragu berbicara atau mengikuti kegiatan kelompok, mengalami kesulitan berteman, mudah merasa malu, serta merasa cemas atau gugup ketika berada di lingkungan baru.
Beberapa cara dapat dilakukan untuk membantu anak menghadapi rasa malu, salah satunya melalui pemberian contoh perilaku sosial yang percaya diri. Anak juga dapat diperkenalkan pada aktivitas sosial secara bertahap, seperti menyapa tetangga atau bermain bersama teman sebaya dalam waktu tertentu. Kemampuan bersosialisasi juga dapat dilatih melalui kegiatan sederhana, seperti membayar sendiri di kasir atau memesan makanan, serta mengunjungi tempat baru untuk membiasakan anak beradaptasi.
Kegiatan yang sesuai dengan minat anak, seperti bermusik, olahraga, atau melukis, juga dapat menjadi sarana untuk bersosialisasi dan membangun pertemanan. Keberhasilan kecil yang dilakukan anak, seperti berkenalan, menyapa tetangga, atau memesan makanan, dapat diberikan apresiasi sebagai bentuk penghargaan terhadap usaha yang telah dilakukan.
Dalam mendampingi anak, pemberian label sebagai “anak pemalu” perlu dihindari, termasuk ketika label tersebut diberikan oleh orang lain. Kepribadian anak dapat diterima sambil tetap memberikan dukungan terhadap perkembangan kemampuan sosialnya, disertai pemenuhan kebutuhan gizi melalui makanan bergizi seimbang untuk menunjang tumbuh kembang, aktivitas, semangat, dan kemampuan bersosialisasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....