Lebih dari Sekadar Tren, Kampanye Global Ajak Konsumen Hargai Keringat Pengrajin

  • 16 Sep 2026 20:57 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu – Proses pembuatan kain tenun tradisional membutuhkan waktu dan ketelitian yang tidak singkat. Kondisi tersebut menjadi perhatian salah satu fashion designer Kota Palu, Evan Tungga, yang menilai karya penenun perlu mendapat apresiasi sepadan dengan proses pembuatannya.

Evan saat berbincang bersama RRI Palu menjelaskan, salah satu contohnya adalah kain tenun Buya Subi asal Donggala, Sulawesi Tengah. Menurutnya, proses pembuatan kain tersebut secara manual dapat membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat minggu untuk menghasilkan kain sepanjang empat meter.

Lamanya proses pengerjaan membuat kain tenun memiliki nilai yang tidak hanya berkaitan dengan tampilan atau motifnya.

“Setiap helai pakaian tenun menjadi sangat bernilai bukan hanya karena estetikanya, melainkan karena keterbatasan lebar kain tradisional yang hanya berkisar 50 hingga 60 sentimeter serta waktu berbulan bulan yang dihabiskan penenun untuk menyelesaikannya,” ujar Evan.

Menurut Evan, pemahaman terhadap proses tersebut penting bagi masyarakat ketika memilih dan menggunakan pakaian berbahan kain tradisional. Kain tenun tidak hanya menjadi bagian dari perkembangan mode, tetapi juga merupakan hasil keterampilan pengrajin yang membutuhkan waktu, ketelitian, dan kemampuan dalam mempertahankan teknik tradisional.

Ia berharap perhatian terhadap proses dan kerja penenun dapat mendorong penghargaan yang lebih baik terhadap produk tenun, termasuk dari sisi nilai ekonomi bagi pengrajinnya. Dengan demikian, penggunaan kain tradisional tidak hanya melihat hasil akhirnya sebagai produk fashion, tetapi juga menghargai proses panjang yang dilakukan para penenun dalam menjaga keberlanjutan tradisi lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....