Ombudsman Soroti Layanan Ramah Anak dan Kesehatan Mental

  • 28 Jul 2026 10:07 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 15,5 juta remaja atau satu dari tiga anak mengalami masalah kesehatan mental dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Peringatan tersebut kembali disampaikan IDAI sebagai ajakan kepada orang tua, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih memperhatikan kesehatan mental anak. Selain tekanan akademik, pola asuh yang kurang tepat dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu stres, kecemasan, hingga depresi pada anak dan remaja.

Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah, M. Rus'an Yasin, S.E., S.H., M.H., menilai persoalan kesehatan mental anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga berkaitan dengan kualitas pelayanan publik di sektor pendidikan dan kesehatan.

"Anak berhak memperoleh lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari tekanan yang berlebihan. Sekolah, tenaga pendidik, layanan kesehatan, hingga pemerintah harus memastikan pelayanan yang diberikan berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak. Ketika pelayanan publik tidak sensitif terhadap kondisi psikologis anak, maka dampaknya bisa memengaruhi tumbuh kembang mereka," ujar Rus'an Yasin.

Menurutnya, pola komunikasi yang baik antara orang tua, sekolah, dan anak harus dibangun sejak dini agar setiap gejala gangguan psikologis dapat dikenali lebih cepat. Ia juga mendorong sekolah untuk memperkuat layanan bimbingan konseling serta memperluas edukasi mengenai kesehatan mental kepada siswa maupun orang tua.

Data I-NAMHS menunjukkan masih rendahnya akses remaja terhadap layanan kesehatan mental. Sebagian besar remaja yang mengalami masalah psikologis belum memperoleh pendampingan maupun layanan profesional sehingga kondisi tersebut berpotensi berlanjut hingga dewasa apabila tidak segera ditangani.

Melalui kolaborasi keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental anak semakin meningkat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....