Perempuan Melek Finansial Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi Keluarga

  • 28 Mei 2026 12:52 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu – Di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks dan derasnya pengaruh gaya hidup digital, literasi keuangan bagi perempuan dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga. Minimnya pemahaman finansial tidak hanya berpotensi mengganggu stabilitas rumah tangga, tetapi juga dapat menjerumuskan masyarakat pada persoalan serius seperti pinjaman online ilegal, investasi bodong, hingga tekanan mental akibat persoalan ekonomi.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako, Prof. Wahyuningsih S.E., M.Sc., Ph.D., menegaskan perempuan memiliki peran strategis dalam mengatur keuangan rumah tangga. Menurutnya, perempuan tidak sekadar mengelola pengeluaran harian, tetapi juga menjadi penentu arah kestabilan ekonomi keluarga.

“Perempuan adalah pondasi dalam rumah tangga, diibaratkan seperti menteri keuangan keluarga. Namun kemampuan mengelola keuangan tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, tetapi membutuhkan ilmu dan literasi yang kuat,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam dialog di RRI Palu beberapa waktu yang lalu.

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi digital dan media sosial saat ini menghadirkan tantangan baru dalam pengelolaan keuangan keluarga. Berbagai promosi, diskon besar, hingga layanan pay later dinilai sangat memengaruhi pola konsumsi masyarakat, khususnya perempuan sebagai pengelola utama kebutuhan rumah tangga.

Menurut Wahyuningsih, tanpa kontrol dan pemahaman finansial yang baik, masyarakat mudah terjebak pada perilaku belanja impulsif. Kondisi tersebut dapat berdampak pada terganggunya kebutuhan prioritas keluarga, termasuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan pokok sehari-hari.

“Sekarang ini banyak orang mengalami tekanan mental karena masalah keuangan. Pengaruh eksternal seperti diskon dan pay later yang menggiurkan, jika tidak diimbangi ilmu yang cukup, bisa membuat kita terbawa arus dan mengancam masa depan keluarga serta anak-anak,” jelasnya.

Ia mencontohkan, tidak sedikit keluarga yang akhirnya kesulitan memenuhi kebutuhan penting karena pengeluaran tidak terkontrol. Dana yang seharusnya digunakan untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT), SPP sekolah, maupun tabungan masa depan justru habis untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.

Selain perilaku konsumtif, ia juga menyoroti maraknya praktik pinjaman online ilegal, investasi bodong, hingga berbagai modus penipuan digital yang menyasar masyarakat dengan iming-iming keuntungan instan. Rendahnya literasi keuangan membuat masyarakat menjadi kelompok paling rentan terhadap penawaran yang menyesatkan.

“Ini sangat membahayakan kalau kita tidak cerdas secara finansial. Literasi keuangan adalah perisai. Tanpa ilmu yang kuat, kita rentan terhadap godaan belanja impulsif dan tawaran investasi yang menyesatkan ,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....