Banyak Hoaks dan Penipuan, Anak Palu Kini Punya Ruang Aman
- 28 Jul 2026 10:20 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Arus informasi yang pesat serta maraknya ancaman kejahatan siber seperti perundungan (cyberbullying), penipuan berkedok hadiah, hingga penyalahgunaan data pribadi membuat dunia maya kian berisiko bagi anak maupun keluarga. Menjawab tantangan tersebut, Komunitas Digital Safety/Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Kota Palu hadir menyediakan ruang aman sekaligus mengedukasi anak-anak untuk membentengi keluarga dari ancaman siber.
Kejahatan di ranah digital tak jarang menimbulkan trauma mendalam bagi korbannya, khususnya kalangan anak dan remaja yang cenderung bingung atau malu untuk melapor ketika data pribadinya disalahgunakan. Isu krusial ini dikupas tuntas dalam siaran dialog "Jaga Malam" di RRI Pro 2 Palu bersama jajaran Satgas Digital Safety. Diskusi interaktif tersebut menyoroti pentingnya kepekaan lingkungan sekitar serta penanganan bagi anak-anak yang kerap mengalami dampak psikologis akibat kejahatan siber.
Anggota Digital Safety, Ghaaliy Raditya Alfiqhi, menceritakan pengalamannya saat pertama kali mendapat edukasi penanganan kasus penipuan siber yang membantunya memahami langkah pencegahan di dunia digital.
"Saya pernah mengalami kejadian penipuan, di situ saya menanyakan kepada Kiki dari Digital Safety apa yang harus dilakukan, dan kami diberi pemahaman jika berada di dunia digital ini banyak orang yang bisa mengakses informasi pribadi kita," ungkap Ghaaliy.
Selain menjadi wadah pendampingan dan tempat berbagi cerita bagi anak korban kekerasan siber, komunitas ini juga mendorong generasi muda untuk mengambil peran aktif sebagai "filter" informasi di rumah masing-masing. Banyak orang tua atau anggota keluarga lansia yang tergolong awam teknologi sangat rentan menjadi sasaran berita bohong (hoaks) maupun manipulasi berbasis Artificial Intelligence (AI).
Anak muda yang telah teredukasi literasi digital dinilai memegang peran kunci untuk melakukan verifikasi dan klarifikasi atas setiap informasi yang masuk sebelum dipercayai atau disebarkan di lingkungan keluarga.
"Kami hadir sebagai filter untuk orang-orang di keluarganya yang mungkin belum mendapatkan kapasitas yang sama sebagai filter yang akan menyaring mana yang hoaks dan mana penipuan," jelas anggota Digital Safety lainnya, Queen Shariani.
Di samping memfilter hoaks, anak-anak juga diajarkan pemanfaatan fitur-fitur keamanan digital seperti pemblokiran dan pelaporan akun berbahaya guna memutus mata rantai kejahatan siber.
Komunitas Digital Safety mengajak seluruh elemen masyarakat di Kota Palu untuk terus mengasah literasi digital dan membangun sistem pendukung yang peka terhadap keselamatan anak. Melalui pemahaman yang memadai dan hadirnya ruang aman, anak-anak beserta keluarga diharapkan dapat berselancar di dunia maya dengan tenang tanpa takut menjadi korban kejahatan digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....