Generasi Muda Penggerak Revitalisasi Bahasa Daerah dan Literasi Kebahasaan
- 24 Apr 2026 21:23 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Tiga sosok muda inspiratif, yakni Sitti Atiyah Maqbullah, Audrey Lima Wongsonegoro, dan Muhammad Nadif Yamani, yang tergabung dalam Ikatan Duta Bahasa Sulawesi Tengah tahun 2026, hadir sebagai garda terdepan dalam upaya revitalisasi bahasa daerah serta peningkatan literasi kebahasaan di Bumi Tadulako.
Atia , terbaik satu Duta Bahasa Sulawesi Tengah, mengungkapkan motivasinya untuk bergabung dengan ajang ini.
"Di kampus, masih banyak yang kurang tertarik dan malu menggunakan bahasa daerah. Saya ingin belajar bahasa daerah dari banyak daerah, dan Duta Bahasa ini adalah wadah untuk menyosialisasikan Trigatra Bangun Bahasa, termasuk merevitalisasi bahasa daerah," ujar Atia, yang juga Ketua Ikatan Duta Bahasa Sulawesi Tengah 2026.
| Baca juga: Remaja Harus Berani Merancang Masa Depan |
Senada dengan Atia, Muhammad Nadif Yamani, Terbaik Dua Duta Bahasa Sulawesi Tengah 2025 dan Sekretaris Satu Ikatan Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah 2026, tergerak oleh realitas fenomena "campur kode" di kalangan generasi Z.
"Penggunaan bahasa asing dicampur dengan bahasa Indonesia tentu mengancam eksistensi bahasa Indonesia sendiri. Saya ingin memulai dari diri sendiri untuk mengubah peristiwa campur kode atau penggunaan bahasa Indonesia yang kurang baik dan benar," tegas Nadif.
Sementara itu, Audrey Limangsanegoro, Duta Bahasa 2025, memiliki ketertarikan yang berbeda. Sebagai mahasiswa matematika, Audrey tertarik pada linguistik dan ingin mempelajari bahasa-bahasa baru, termasuk bahasa daerah Kaili yang digunakan keluarganya.
| Baca juga: Pola Pikir Positif Kunci Hadapi Era Digital |
"Saya sadar, saya lahir di keluarga mama saya Kaili, dan orang-orang di rumah kadang bicara pakai bahasa Kaili tapi saya tidak bisa, tidak paham mereka. Melalui Duta Bahasa ini, saya ingin belajar terkait itu," jelas Audrey.
Ketiganya telah melahirkan program-program unggulan yang berdampak nyata. Atia fokus pada revitalisasi bahasa daerah dengan modul "Antar Rasa" yang berisi kosakata bahasa daerah Saluan. Modul ini dirancang untuk remaja yang kurang memahami bahasa daerah, bahkan Atia sendiri belajar dari ibunya yang merupakan penutur asli bahasa Saluan.
Audrey menciptakan "Litbot" (Literasi Bot), sebuah bot Telegram interaktif untuk persiapan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Litbot memungkinkan pengguna mengerjakan soal UKBI dengan pembahasan instan dan dapat diakses setiap hari dengan soal yang berbeda.
| Baca juga: Kegagalan Adalah Bagian dari Proses Belajar |
"Setelah kami akumulasi dari tes awal dan tes akhir, ada peningkatan jumlah nilai yang dicapai oleh siswa-siswa. Dari awalnya rata-rata di angka 60-an, bisa naik ke angka 80-an," ungkap Audrey.
Nadif meluncurkan "Lamira" (Lembar Main Ceria), sebuah modul pembelajaran konvensional berbentuk permainan seperti ular tangga dan teka-teki silang, yang berfokus pada literasi kebahasaan dan numerasi untuk anak-anak di Desa Kalora.
"Hal itu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, apalagi untuk anak-anak kita berikan suatu lembar main yang ceria tapi juga memberikan mereka pemahaman yang baru terkait dengan kebahasaan dan juga literasi numerasi," kata Nadif.
Meskipun menghadapi tantangan seperti keterbatasan gawai di daerah pelosok dan kurangnya minat partisipan terhadap literasi, para Duta Bahasa ini tetap gigih. Mereka didukung penuh oleh keluarga, seperti Umi Nadif yang selalu memberikan semangat, almarhum Papa Atia yang menjadi pendukung utama dalam hal positif dan pendidikan, serta Mama Audrey yang memberikan apresiasi luar biasa.
Dengan semangat dan inovasi yang mereka bawa, Duta Bahasa Sulawesi Tengah 2026 membuktikan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan, melestarikan kekayaan budaya, dan meningkatkan kualitas literasi di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....