Perempuan Jadi Motor Layanan RSUD Anutapura Palu
- 23 Apr 2026 16:42 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Perjuangan Raden Ajeng Kartini untuk kesetaraan gender kini menemukan relevansinya di era digital, terutama di sektor kesehatan. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anutapura Palu menjadi contoh nyata bagaimana perempuan tidak hanya setara, tetapi juga mendominasi posisi kepemimpinan dan adaptif terhadap kemajuan teknologi.
Direktur RSUD Anutapura Palu, dr. Maria Rosa Da Lima Rupa, M.Biomed, mengungkapkan bahwa 74% tenaga kerja di rumah sakit yang dipimpinnya adalah wanita. Lebih menarik lagi, struktur manajerial di RSUD Anutapura didominasi oleh perempuan, mulai dari direktur hingga kepala bagian. "Kalau untuk Anutapura, kalau by data 74% tenaga di rumah sakit adalah wanita dan sekitar 26% itu adalah laki-laki," jelas dr. Maria. Ia menambahkan, "secara struktur manajerial kepemimpinan kami di Anutapura semuanya perempuan."
Dominasi perempuan ini tidak menghambat kinerja, justru sebaliknya. Dr. Maria menegaskan bahwa tidak ada kesulitan berarti dengan mayoritas perempuan dalam kepemimpinan. "Alhamdulillah tidak. Kalau di rumah sakit alhamdulillah tidak," ujarnya.
Di era digital ini, RSUD Anutapura juga telah mengadopsi teknologi secara menyeluruh, mulai dari absensi hingga pelayanan pasien. dr. Maria menekankan pentingnya adaptasi bagi seluruh petugas rumah sakit. "Tidak dipungkiri semuanya sekarang digitalisasi start dari absen sampai dengan pelayanan ke pasien," kata dr. Maria. "Kami harus mampu berubah mengikuti perkembangan zaman teknologi digitalisasi pada saat ini."
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prioritas, sejalan dengan target Walikota Palu untuk mencapai 70% peningkatan kompetensi SDM di RSUD Anutapura tahun ini. Pelatihan alat canggih dan digitalisasi juga terus dilakukan, termasuk untuk perawat.
Digitalisasi ini membawa dampak positif pada pelayanan publik. "Dengan digitalisasi era keterbukaan, transparansi dan di mana pasien tidak lagi antrian online, pasien tidak lama menunggu jadi lebih manusiawi," jelas dr. Maria.
Dr. Maria juga menyoroti bahwa emansipasi yang diperjuangkan Kartini telah membuka jalan bagi wanita untuk berkembang. "Emansipasi yang diberikan oleh Ibu Kartini termasuk saya menjabat sebagai direktur, itu adalah perjuangan awal di mana wanita bisa berkembang," pungkasnya. Ia berpesan agar wanita Indonesia mampu mengikuti perubahan teknologi tanpa mengenyampingkan etika dan kodrat sebagai wanita.(UKJ)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....