Ramadan Hadapi Tantangan Aksara Kaili Modern
- 21 Feb 2026 07:10 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Gagasan pengembangan aksara modern untuk bahasa Kaili yang digagas penulis muda Muhammad Ramadan terus menuai perhatian publik. Di tengah semangat pelestarian bahasa daerah, inovasi yang mengadaptasi sistem penulisan Jepang ini tidak lepas dari tantangan, baik dari sisi penerimaan masyarakat maupun peluang pengakuan secara resmi.
Ramadan sebelumnya memperkenalkan sistem penulisan bahasa Kaili dengan mengadaptasi pola suku kata dari Hiragana dan Katakana. Menurutnya, pendekatan tersebut dipilih karena dinilai sederhana dan mudah dipelajari generasi muda. Namun, di tingkat komunitas, respons yang muncul beragam.
Sebagian kalangan menilai langkah tersebut sebagai terobosan kreatif dalam upaya menjaga eksistensi bahasa Kaili di era digital. Mereka melihat inovasi ini dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk kembali mempelajari bahasa ibu melalui media sosial, desain grafis, hingga karya sastra modern.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan penggunaan aksara asing dalam penulisan bahasa daerah. Sejumlah tokoh masyarakat berpendapat bahwa pelestarian bahasa semestinya juga menggali dan memperkuat identitas lokal yang telah ada, bukan mengadopsi sistem dari luar. Perdebatan tersebut menjadi dinamika tersendiri dalam proses pengembangan aksara Kaili modern.
Menanggapi hal itu, Ramadan menegaskan bahwa idenya bukan untuk menggeser nilai budaya lokal, melainkan sebagai strategi adaptif agar bahasa Kaili tetap relevan di tengah arus globalisasi.
“Saya justru ingin anak muda merasa bangga dan tertarik belajar bahasa Kaili dengan cara yang dekat dengan keseharian mereka,” ujarnya saat dialog di Program Kataua Ntodea di Pro 4 RRI.
| Baca juga: 25 Usaha Baru untuk Disabilitas Sigi. |
Di sisi lain, muncul harapan agar inovasi ini dapat dikaji lebih lanjut oleh akademisi, lembaga bahasa, serta pemerintah daerah. Dukungan regulasi dan penelitian dinilai penting agar sistem penulisan tersebut memiliki standar linguistik yang jelas dan tidak menimbulkan kebingungan dalam penggunaannya.
Potensi pemanfaatan aksara Kaili modern juga mulai dilirik sebagai identitas visual daerah. Beberapa pihak mengusulkan agar aksara tersebut dapat diuji coba pada ruang publik, seperti papan nama kegiatan budaya, materi promosi pariwisata, hingga konten edukasi di sekolah sebagai bentuk pengenalan awal.
Meski masih dalam tahap gagasan dan pengembangan, langkah Muhammad Ramadan mencerminkan semangat generasi muda dalam menjaga warisan bahasa daerah. Tantangan yang ada diharapkan menjadi ruang dialog konstruktif antara komunitas, tokoh adat, akademisi, dan pemerintah, demi menemukan formulasi terbaik bagi masa depan bahasa Kaili. (AL)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....