Minim Literasi, Teman Tuli Butuh Akses Pendidikan Inklusif
- 31 Jan 2026 20:04 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Rendahnya tingkat literasi masih menjadi tantangan serius bagi penyandang tuli di Kota Palu. Keterbatasan akses pendidikan yang ramah disabilitas membuat sebagian besar penyandang tuli belum memperoleh pembelajaran yang utuh, baik dalam aspek akademik, keterampilan hidup, maupun pemahaman keagamaan.
Dewan Penasihat Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Palu, Yasin Ali Hado, menegaskan bahwa literasi menjadi fondasi utama bagi kemandirian penyandang tuli. Menurutnya, terdapat lima metode dasar yang seharusnya dikuasai oleh penyandang tuli agar mampu berkembang secara optimal di tengah masyarakat.
“Teman-teman tuli harus menguasai lima metode, yaitu membaca, menulis, oral, bahasa isyarat, dan media visual. Selama ini yang dikuasai baru sebagian, sehingga mereka kesulitan memahami informasi,” ujar Yasin Ali Hado.
| Baca juga: Kunci Belajar Efektif saat Ujian |
Yasin menjelaskan, lemahnya literasi membuat penyandang tuli sulit mengakses informasi penting, termasuk layanan publik dan pendidikan nonformal. Kondisi ini juga berdampak pada keterbatasan pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan yang seharusnya menjadi pegangan hidup setiap individu.
Hal senada disampaikan Juru Bahasa Isyarat Gerkatin Palu, Irman Syah. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak penyandang tuli yang belum memahami dasar ajaran agama, seperti rukun Islam dan syahadat, bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena minimnya dakwah yang aksesibel bagi mereka.
“Bukan karena mereka tidak mau belajar, tapi karena tidak ada akses. Banyak teman-teman tuli yang bahkan belum memahami rukun Islam dan syahadat, karena materi agama jarang disampaikan dengan bahasa isyarat,” kata Irman Syah.
Menurut Irman, bahasa agama memiliki istilah yang berbeda dengan bahasa sehari-hari, sehingga membutuhkan penyederhanaan dan penerjemahan khusus ke dalam bahasa isyarat. Tanpa juru bahasa isyarat, materi keagamaan sulit dipahami dan tidak tersampaikan secara utuh kepada penyandang tuli.
Menjawab persoalan tersebut, Gerkatin Palu mulai mendorong pembinaan keagamaan inklusif melalui program kerja sama dengan lembaga sosial dari Makassar. Program ini difokuskan pada pembelajaran agama berbasis bahasa isyarat yang disesuaikan dengan kebutuhan penyandang tuli.
Gerkatin Palu berharap pemerintah daerah dan lembaga keagamaan dapat lebih serius menghadirkan pendidikan inklusif yang ramah disabilitas. Dengan dukungan akses literasi dan keagamaan yang setara, penyandang tuli diharapkan mampu mandiri secara sosial, berdaya secara ekonomi, serta memiliki pemahaman spiritual yang utuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....