Dinkes: Kasus HIV Palembang Fenomena Gunung Es

  • 27 Jan 2026 18:43 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang – Temuan 451 kasus HIV di Kota Palembang sepanjang tahun 2025 dinilai sebagai fenomena gunung es. Temuan tersebut tidak hanya dilihat sebagai angka kasus, namun mencerminkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Palembang, Yudhi Setiawan. Menurutnya, di balik angka 451 kasus, ada kemungkinan jumlah yang lebih besar karena belum semua kelompok berisiko memeriksakan diri.

"Banyak faktor yang mempengaruhi jumlah angka ini. Salah satunya dengan banyaknya fasilitas kesehatan untuk deteksi HIV di kota Palembang," ucap Yudhi dalam dialog Palembang Menyapa di Pro 1 RRI Palembang, Senin 26 Januari 2026. 

Yudhi menjelaskan, pola penularan HIV kini mengalami pergeseran signifikan. Tidak lagi dengan jarum suntik narkoba, saat ini penularan didominasi perilaku seksual berisiko, terutama laki-laki seks dengan laki-laki.

“Sekitar 71 persen dari kasus HIV di Palembang berasal dari kelompok laki-laki seks dengan laki-laki. Mayoritas berada di usia produktif 25 hingga 40 tahun,” jelasnya.

Selain perubahan perilaku, stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan serius dalam pengendalian HIV. Padahal, HIV tidak menular melalui sentuhan, bersalaman, atau interaksi sosial sehari-hari.

Yudhi menegaskan, HIV hanya dapat menular melalui pertukaran cairan tubuh tertentu, seperti darah dan cairan seksual. Oleh sebab itu masyarakat tidak perlu menjauhi orang dengan HIV.

Hal senada disampaikan Rudi Muliansyah, pendukung sebaya dari Yayasan Sriwijaya Plus. Menurutnya, stigma paling berat justru datang dari diri sendiri dan lingkungan terdekat, termasuk keluarga.

"Banyak orang dengan HIV yang patuh minum obat, tapi harus sembunyi-sembunyi. Hal itu karena keluarga dan orang sekitarnya belum paham,” ungkap Rudi.

Sementara itu, pemerintah menyediakan pengobatan antiretroviral (ARV) gratis seumur hidup bagi orang dengan HIV. Masyarakat juga bisa melakukan pemeriksaan di layanan kesehatan untuk kelompok beresiko.

Rudi menegaskan semakin banyak kasus yang terdeteksi, semakin cepat bisa diobati. Orang dengan HIV bisa hidup sehat dan produktif seperti orang lain jika mendapatkan pengobatan yang tepat secara rutin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....