Waspadai Hantavirus, Penyakit Menular Melalui Kotoran Tikus

  • 31 Mei 2026 12:15 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Hantavirus berasal dari tikus dan menular melalui partikel kotoran atau urin tikus yang mengering lalu terhirup, bukan melalui kontak antarmanusia.
  • Gejalanya mirip penyakit lain, seperti demam, batuk, sesak napas, gangguan ginjal, hingga perdarahan, sehingga diagnosis memerlukan pemeriksaan khusus seperti serologi dan PCR.
  • Pencegahan utama adalah menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus untuk mengurangi risiko paparan virus.

RRI.CO.ID, Palembang - Hantavirus kembali menjadi perhatian masyarakat setelah munculnya pembahasan mengenai penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat tersebut. Meski belum banyak dikenal luas, hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di dunia medis dan telah ditemukan sejak puluhan tahun lalu.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Harun Hudari mengatakan bahwa hantavirus pertama kali dikenal pada masa Perang Korea pada dekade 1950-an. Nama virus tersebut berasal dari sungai Hanta yang berada di Korea Selatan, lokasi awal ditemukannya kasus penyakit tersebut.

“Hanta itu sebenarnya nama sungai di Korea. Saat perang Korea banyak tentara meninggal dan diketahui tertular dari tikus,” ungkap dr. Harun, dalam Dialog Palembang Menyapa RRI, Seni 25 Mei 2026.

Ia mengatakan mekanisme penularan hantavirus berbeda dengan leptospirosis maupun COVID-19. Virus ini tidak menyebar melalui kontak langsung antarmanusia, melainkan berasal dari partikel kotoran atau urin tikus yang telah mengering dan kemudian terhirup melalui saluran pernapasan.

dr. Harun mengatakan infeksi hantavirus kerap sulit dideteksi pada tahap awal karena gejalanya menyerupai sejumlah penyakit lain. Penderita umumnya mengalami demam, batuk, sesak napas, hingga gangguan pada fungsi ginjal.

Pada kondisi tertentu, penyakit ini juga dapat menyebabkan perdarahan. “Kasus ini memang sulit dikenali karena gejalanya mirip penyakit lain seperti pneumonia atau demam berdarah,” katanya.

Untuk memastikan diagnosis, diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus, seperti tes serologi dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Namun, ketersediaan pemeriksaan tersebut masih terbatas di sejumlah fasilitas kesehatan karena keterbatasan reagen.

dr. Harun juga menegaskan bahwa hantavirus tidak menular dari satu orang ke orang lain. Risiko infeksi muncul ketika seseorang terpapar partikel yang berasal dari kotoran tikus yang telah terkontaminasi virus.

“Orang yang sakit tidak akan menularkan kepada orang lain. Penularan terjadi karena menghirup partikel dari kotoran tikus,” jelasnya.

Di Indonesia, kasus hanta virus juga menyerang organ ginjal dibandingkan paru-paru. Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area yang berpotensi menjadi sarang hewan pengerat.

Upaya pencegahan dinilai sebagai langkah penting untuk mengurangi risiko paparan hanta virus. Langkah ini perlu dilakukan secara konsisten agar lingkungan sekitar tetap aman dan sehat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....