Tim 11 Kawal Revitalisasi Wisata Palembang Berbasis Sejarah

  • 31 Mar 2026 00:14 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID Palembang - Upaya memperkuat identitas budaya dalam pembangunan Kota Palembang terus didorong melalui peran Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan. Tim yang beranggotakan akademisi, sejarawan, budayawan, dan para pakar ini menjadi mitra strategis pemerintah kota dalam memastikan setiap pembangunan tetap berpijak pada nilai historis dan kearifan lokal.

Ketua Tim 11, Hidayatul Fikri yang akrab disapa Mang Dayat, menegaskan peran tim tidak sekadar memberi masukan, tetapi juga kritik konstruktif agar arah pembangunan tidak keluar dari akar budaya Palembang.

“Peran dan fungsi Tim 11 dalam percepatan pemajuan kebudayaan Palembang adalah memberikan masukan, saran, dan kritikan kepada pemerintah kota agar pembangunan sesuai dengan nilai budaya dan historisnya,” ujar Mang Dayat saat berbincang dalam program Obrolan Budaya Belajasumba, Sabtu, 28 Maret 2026.

Sejumlah proyek pembangunan dan revitalisasi kini tengah berjalan. Salah satu yang telah rampung adalah Tugu Air Mancur di kawasan Masjid Agung Palembang. Sementara itu, revitalisasi Benteng Kuto Besak dan sejumlah makam bersejarah peninggalan Palembang Darussalam masih berlangsung secara bertahap.

Mang Dayat menekankan, proses revitalisasi tersebut tidak dilakukan secara sepihak. Pemerintah kota, kata dia, turut melibatkan berbagai unsur masyarakat agar hasil pembangunan tetap akurat secara sejarah.

“Untuk revitalisasi ini, pemerintah kota Palembang melibatkan akademisi, sejarawan, dan budayawan agar sesuai dengan fakta sejarah dan budaya yang ada,” katanya.

Senada, sejarawan Sumatera Selatan Kemas AR Pandji menilai keterlibatan sejarawan penting untuk memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat terkait pembangunan yang dilakukan.

“Pembangunan yang dilakukan diharapkan tidak asal bangun. Pemerintah kota Palembang menyerap aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk sejarawan,” jelasnya.

Ia mencontohkan pembangunan Tugu Air Mancur di dekat Masjid Agung Palembang yang mengusung bentuk bunga cempako telok, lengkap dengan lafaz Muhammad dan tulisan Palembang Darussalam.

Menurutnya, pemilihan ornamen tersebut bukan tanpa alasan. “Cempako telok dipilih karena merupakan tanaman endemik yang banyak terdapat di Kota Palembang,” ujar Ari Panji.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa unsur tersebut mencerminkan kearifan lokal masyarakat Palembang. Sementara penggunaan nama Palembang Darussalam menjadi representasi identitas kota yang mayoritas penduduknya Muslim, namun tetap hidup harmonis dalam keberagaman.

Kini, wajah baru bundaran Tugu Air Mancur Cempako Telok tak hanya tampil lebih modern, tetapi juga sarat makna. Kawasan ini bahkan telah disepakati sebagai titik nol kilometer Kota Palembang, menjadi simbol baru yang merepresentasikan sejarah sekaligus arah masa depan kota.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....