Tongkat, Kuliner, dan Kebangkitan Ekonomi Milawati
- 14 Jun 2026 17:09 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Aroma gurih santan menguar saat jemari Milawati (37) menekan tuas cetakan kue akar pinang ke dalam wajan berisi minyak panas. Udara di dapur yang menyengat siang itu, membuat kedua matanya perih.
Perlahan, ia mengambil spatula untuk membalik batangan adonan agar matang merata. Di saat bersamaan, tangan kirinya mencengkeram hulu tongkat ketiak untuk menopang beban tubuhnya.
"Tongkat ini jadi penopang, usai saya mengalami kecelakaan motor dan membuat kaki kiri patah," kenang perempuan yang kerap disapa Mila, Jumat, 12 Juni 2026.
Ingatan pun seketika menerawang ke aspal panas di Jalan RTA Milono pada akhir Januari 2026 lalu. Musibah itu terjadi sore hari ketika ia dalam perjalanan pulang usai mengikuti pelatihan.
Malam sebelum kejadian nahas itu terjadi, dapurnya ramai oleh pesanan pelanggan yang harus selesai sebelum azan subuh berkumandang. Rasa lelah itu ia lawan demi membantu ekonomi keluarga.
Bunyi decit ban dan benturan aspal menjadi suara yang terakhir dia dengar sebelum segalanya gelap. Saat kelopak matanya kembali terbuka, langit-langit putih RSUD Doris Sylvanus membentang kaku di atas kepalanya.
Mila mendapatkan perawatan selama sepekan di rumah sakit tersebut. Produksi cemilannya pun sempat terhenti selama dua bulan saat menjalani proses pemulihan.
"Saat pertama kali menggunakan tongkat memang agak kesulitan. Cuman, semua itu bukan penghalang tapi tantangan yang harus dijalani," ucapnya.
Perjalanan bisnis kulinernya bermula dari obrolan santai dengan Nida, seorang mantri atau tenaga pemasar mikro Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dari sanalah ia kemudian merintis usaha bernama Cemilan Acil Mila pada 2021 silam.
Perkenalan dengan mantri tersebut terjadi lewat suaminya, Muhammad Arbani, yang merupakan penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR). Namun sayangnya, usaha mebel sang suami terpaksa gulung tikar akibat hantaman pandemi Covid-19.
"Waktu itu, ada mantri yang mencicipi camilan saya dan menyarankan untuk menjualnya karena rasanya enak. Lumayan buat membantu ekonomi keluarga," katanya, sembari menunjukkan produk buatannya.
Ia kemudian memberanikan diri memasarkan produknya melalui lokapasar dan media sosial. Tak hanya itu, ibu tiga anak ini juga menitipkan beberapa barang dagangnya ke beberapa toko dan swalayan ternama di Palangka Raya.
Aneka jajanan seperti stik bawang, keripik pisang, akar pinang, kacang molen, dan kuping gajah menjadi penopang ekonomi keluarga saat itu. Melalui hasil usaha itu pula, Mila dapat membantu membayar angsuran KUR sang suami senilai Rp1 juta-an per bulan.
"Setelah usaha mebel tutup, saya yang harus berjuang. Namun, alhamdulillah sekarang suami sudah membuka usaha kembali di bidang renovasi makam," ujarnya.
Meskipun roda ekonomi suaminya sudah kembali berputar, alumni SMA Muhammadiyah Martapura itu memilih tidak berpangku tangan. Ia tetap melanjutkan usaha kuliner dan terus menimba ilmu agar bisnis rumahannya tidak tertinggal oleh zaman.
Baginya, belajar di usia kepala tiga sebuah penghalang untuk tetap berdaya. Di saat orang-orang seusianya memilih bersantai, ia justru sibuk belajar memahami sistem aplikasi keuangan modern.
Berkat pelatihan literasi keuangan, ia kini menggunakan ekosistem keuangan digital, mulai dari QRIS hingga mobile banking BRImo. Aplikasi itu membantunya untuk memantau arus kas dalam bisnisnya.
Kini, dari usaha rumahan tersebut, dia mampu mengantongi omzet Rp6 juta per bulannya. Untuk produknya sendiri dijual mulai dari harga Rp15 ribu hingga Rp50 ribu.
"Karena memang membuat kue sudah hobi dari kecil. Alhamdulillah, berkat usaha ini bisa membantu ekonomi keluarga saya," katanya dengan senyum optimis.

Kehadiran QRIS di usahanya, rupanya juga disambut baik oleh salah satu pembeli, Andi. Ia menilai adanya fasilitas pembayaran digital ini sangat membantunya yang jarang membawa uang tunai di dompet.
Selain itu, ia juga salut terhadap kegigihan Mila untuk membantu ekonomi keluarganya. Maka dari itu, ia kerap memesan kudapan dalam jumlah besar setiap kali rumahnya kedatangan tamu.
"Jika ada acara keluarga, saya sering membeli cemilannya. Emang enak, saya akui kue kering buatannya," ujarnya.
Komitmen BRI dalam mendampingi pelaku UMKM ditegaskan oleh pihak manajemen. Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyebut peran mantri tidak hanya sebagai penyalur kredit, tetapi juga melakukan edukasi keuangan dan pembinaan.
“Mantri bukan hanya menyalurkan kredit, tetapi juga mengawal usaha nasabah hingga berkembang,” tegas Akhmad.
Sementara itu, Dosen Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Quratul Ain, menyebut digitalisasi keuangan merupakan langkah krusial bagi UMKM untuk naik kelas di era modern seperti sekarang ini.
"Pelaku usaha yang mengadopsi ekosistem digital bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah strategi yang sangat cerdas. Di era digital, kemudahan transaksi adalah kunci utama untuk menarik konsumen,” jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....