Inovasi Desa Sungai Rasau: Olah Buah Mangrove Jadi Produk Olahan
- 19 Mei 2026 12:08 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Tanah Laut - Matahari sepenggalan naik di Desa Sungai Rasau, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Di kejauhan, kawanan bekantan terlihat mengintip warga dari dahan-dahan mangrove yang lembab oleh embun.
Bagi warga setempat, bekantan bukan sekadar primata tetapi tetangga seberang desa yang hidup berdampingan. Batas antara pemukiman warga dengan habitat liar itu dipisahkan oleh sungai dan direkatkan oleh rimbunnya pepohonan.
Di antara tenangnya kehidupan desa, ada sekelompok perempuan yang sedang berusaha menggerakkan ekonomi dari dapur mereka. Buah mangrove yang kerap dimakan bekantan, kini diolahnya menjadi dodol dan sirup.
Kendati demikian, warga hanya mengolah buah mangrove yang tumbuh di area pemukiman, bukan di hutan bakau yang menjadi 'ruang makan' bagi primata berhidung bangir itu. Ada batasan yang tidak tertulis bagi warga, demi memastikan rantai makanan tetap terjaga.
"Jadi buah (mangrove) yang digunakan itu bukan di seberang sungai (hutan bakau), tetapi yang tumbuh di pekarangan rumah," kata Marhamah, wanita pembuat dodol, Minggu 3 Mei 2026.
Aroma buah itu pun menyeruak dari kuali yang mendidih di dapur berdinding papan miliknya. Dengan api sedang, wanita berusia 56 tahun itu tampak sibuk mengaduk adonan yang kian pekat.

Rasa masamnya rambai bogem-panggilan masyarakat pada buah ini, ditaklukkan oleh panasnya api di atas wajan yang berisi gula merah, santan, dan tepung ketan. Marhamah mengubahnya menjadi kudapan legit yang memanjakan lidah yaitu dodol mangrove.
Inovasi warga Desa Sungai Rasau tidak berhenti pada olahan kudapan. Tidak jauh dari kediaman Marhamah, asap juga mengepul dari dapur milik Maria Ulfa. Perempuan ini merebus sari buah untuk dijadikan sirup penawar dahaga.
"Awalnya memang susah menghilangkan rasa masamnya. Buah harus direbus berulang kali dan dipisahkan dari bijinya dengan telaten," tuturnya, sambil sesekali menyeka peluh di dahi dengan ujung celemeknya.
Syahdan, perkembangan Desa Sungai Rasau kian terarah setelah menyandang status Desa BRILiaN pada tahun 2024. Menurut Maria Ulfa, perbankan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, literasi keuangan, hingga akses permodalan.
"Kami diajarkan cara mengemas produk agar tampil elegan, membuat pencatatan keuangan yang rapi, hingga memanfaatkan transaksi digital," ungkap wanita yang juga menjabat sebagai Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Sungai Rasau.
Dalam satu kali masa produksi, mereka mampu menghasilkan hingga 500 botol sirup dan 30 kemasan dodol. Satu botol sirup ukuran 250 mililiter dijual dengan harga Rp15 ribu, sedangkan dodol dijual seharga Rp5 ribu per kemasan.
Kekuatan produksi digerakkan oleh dua kelompok di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang masing-masing beranggotakan 10 orang. Dari total produksi tersebut, omzet yang diperoleh mencapai Rp7.650.000.
"Produksinya tidak dihitung berdasarkan bulan, tetapi menyesuaikan dengan habisnya stok produk dan jumlah pesanan. Hal ini karena kami bergerak di bidang kuliner yang dibatasi oleh masa kedaluwarsa," katanya.
Masa kedaluwarsa sirup bertahan 6-12 bulan, sementara dodol 2-4 minggu tergantung cara penyimpanannya. "Kami juga memasarkannya secara digital melalui lokapasar (marketplace)," ucapnya sambil menunjukkan tampilan produk di layar ponsel.
Kini, buah yang dulunya diremehkan menjelma menjadi oleh-oleh andalan khas Desa Sungai Rasau. Produk olahan tersebut, kian disukai para pelancong, Wahyu salah satunya. Pengunjung asal Palangka Raya ini, terkesan dengan sensasi rasa yang ditawarkan.
"Manis dodolnya enak dan legit. Sementara sirupnya memberikan kesegaran asam yang tidak ditemukan di buah lain," kata Wahyu, sambil menunjukkan sirup merah pekat yang baru saja dibelinya.
Menjaga Rumah Bekantan
Keselarasan antara pelestarian alam dan denyut ekonomi di Desa Sungai Rasau tak lepas dari tangan kepala desa, Tan Selamat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa desa yang dipimpinnya memanggul kekayaan ekologis yang harus dirawat.
Bagi Tan Selamat, kehadiran kawanan bekantan bukan sekadar pemandangan biasa, melainkan aset keanekaragaman hayati yang tak ternilai. Keberadaan primata endemik Kalimantan ini sekaligus membuka gerbang bagi pengembangan ekowisata desa di masa depan.
"Logikanya sederhana, jika hutan bakau dirusak maka bekantan akan kehilangan habitat. Maka kami harus menjaganya agar yakni saling menghidupi satu sama lain," ujarnya dengan penuh semangat.

Aktivis lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Selatan itu, Raden Rafiq turut menilai permasalahan ekonomi masyarakat di pesisir tidak harus diselesaikan dengan merusak alam, tetapi bisa lewat dapur kaum ibu. Ia menyebut, masyarakat Desa Sungai Rasau membuktikan itu.
"Dodol dan sirup ini kan membuktikan bahwa masyarakat mampu menciptakan ekonomi lokal berbasis kelestarian alam. Artinya ini harus didorong karena sangat bagus," kata Raden.
Direktur WALHI tersebut membeberkan keberadaan pohon mangrove di Desa Sungai Rasau menjalankan fungsi ganda. Tanaman dengan nama Latin Sonneratia caseolaris itu menjelma menjadi mesin penggerak ekonomi desa sekaligus benteng terakhir melawan perubahan iklim.
"Selain menahan abrasi, hutan bakau juga memiliki kemampuan menyerap karbon. Maka dari itu, kelestariannya harus kita lindungi dan jaga sebaik mungkin termasuk ekosistem di laut," ucapnya, dengan nada tegas.
Hal senada diungkapkan oleh Regional CEO BRI Office 14 Banjarmasin, Bambang Indriatmoko. Ia menegaskan bahwa transformasi di tingkat desa kini mulai mengintegrasikan aspek kelestarian alam dengan kesejahteraan masyarakat.
Bambang pun menyoroti peran strategis perempuan sebagai motor penggerak ekonomi hijau di tingkat akar rumput. Komitmen pelestarian lingkungan yang berdampak ekonomi ini telah tertanam kuat melalui program Desa BRILiaN.
"Inovasi desa saat ini tidak lagi sekadar mengejar keuntungan finansial jangka pendek. Fokus kami arahkan ke inovasi untuk mendukung gerakan ramah lingkungan yang berkelanjutan," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....