Tinggalkan Karier Manajer, Woro Bangun Usaha Keripik Ikan

  • 19 Mei 2026 12:22 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Banjarbaru – “Demi waktu,” ucap Woro Respanti Sari di ujung telepon, Sabtu, 9 Mei 2026. Dua kata sederhana itu merangkum keputusan besar yang pernah diambilnya: meninggalkan jabatan manajer di perusahaan farmasi demi lebih banyak waktu bersama anak-anaknya.

Woro, begitu ia disapa. Suaranya tak ada yang berubah, terdengar ramah persis seperti pertama kali berjumpa di kediamannya kawasan Sukarelawan Asri, Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada akhir April lalu.

Di balik layar gawai, percakapan itu mengalir. Mulanya membahas seputar harga sayuran, minyak goreng, ayam, dan pendidikan anak. Namun menjalar ke topik lebih dalam tentang karier seorang perempuan.

Woro bercerita, sebelum menekuni dunia usaha ia merupakan seorang medical representative di sebuah perusahaan farmasi nasional. Jabatan terakhirnya pun tak main-main, Manajer Area Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

"Dulu saat bekerja itu mengunjungi beberapa rumah sakit dan bertemu para dokter. Makanya harus wara-wiri bahkan hingga larut malam," ungkap ibu dua anak ini mengenang masa lalunya.

Namun pekerjaan itu membuat Woro lebih sering melihat anak-anaknya sudah terlelap. Ia pun gelisah tak ingin masa tumbuh kembang anak-anaknya lebih banyak di tangan pengasuh ketimbang dirinya sendiri.

"Suami juga sama-sama bekerja," tambahnya. Suaminya merupakan seorang dokter hewan sekaligus Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang bertugas di Pelaihari.

Takut kehilangan kebersamaan dengan kedua buah hatinya, Woro mengambil keputusan berani yakni meninggalkan kariernya. "Tepat pada 2010, saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan," ujar Woro dengan nada mantap.

Setelah melepas status karyawan, ia sepenuhnya mendedikasikan diri untuk keluarga. Menyiapkan sarapan, mengantar sekolah, hingga mendampingi belajar menjadi rutinitas barunya.

Namun, insting dagangnya tak pernah mati. Di sela tugas sebagai ibu rumah tangga, ia mencoba peruntungan dengan membuka salon hingga laundry. Sayangnya, semua usaha itu kandas.

Tak mau menyerah, ia mencoba bangkit dengan merambah bisnis kuliner melalui jualan nasi pecel sejak 2016. Guna memperkuat usahanya, pada 2018 Woro mengakses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp35 juta.

Tahun 2021 menjadi babak baru bagi Woro. Ia menemukan ceruk bisnis lewat pengolahan ikan saluang dan bilis menjadi keripik, yang kini dikenal sebagai Salupi (Saluang Krispi) dan Bilpi (Bilis Krispi).

"Saya berniat menguasai bisnis kuliner khas daerah. Ikan saluang dan bilis saya pilih karena peminatnya sangat banyak," ungkap wanita yang pernah mengenyam pendidikan di IKIP Madiun ini.

Keripik ikan olahannya dibanderol seharga Rp20 ribu hingga Rp45 ribu per kemasan, tergantung jenis serta ukurannya. Tak main-main, dari bisnis ini Woro sukses meraup omzet hingga Rp35 juta per bulan.

Selain merambah pasar digital, Salupi dan Bilpi juga tersedia di gerai bandara serta toko oleh-oleh. Distribusinya pun kian meluas, menjangkau Banjarbaru, Banjarmasin, Palangkaraya, Batulicin, hingga ke Medan.

Peran ganda sebagai ibu sekaligus pengusaha, melapangkan masa depan anak-anaknya. Ia berhasil mengantarkan putri sulungnya Nuzulia Tasya Fitriana lulus dari Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN dan menikah pada 2025 lalu.

Sementara putra bungsunya Raihan Fawwaz Novantiko, kini menempuh pendidikan tinggi. "Alhamdulillah, anak bungsu sudah kuliah semester dua di UPN Surabaya," ucap perempuan kelahiran Madiun 1971 ini.

Prestasi Woro pun diakui secara luas. Pada 2024, usahanya masuk dalam jajaran lima besar Kategori Kuliner di ajang Banua Kreatif. Setahun kemudian, ia menyabet penghargaan UMKM Award kategori "UMKM Naik Kelas" dari Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby.

"Menang atau kalah dalam kompetisi itu wajar. Jika belum menang, artinya kita harus berlapang dada dan terus memperbaiki diri," tutur perempuan kelahiran 1971 ini dengan bijak.

Dukungan terhadap sosok tangguh seperti Woro juga disuarakan oleh Corporate Secretary BRI, Dhanny. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar, mulai dari lingkup keluarga hingga masyarakat luas.

"Di era modern, perempuan berperan aktif dalam membangun keluarga, memperkuat komunitas, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Kami berkomitmen untuk terus mendorong mereka mengembangkan potensi tersebut," kata Dhanny.

Sosiolog Universitas Palangka Raya (UPR), Evi Nurleni, melihat banyaknya perempuan yang bekerja di sektor informal seperti berbisnis adalah cara untuk tetap berdaya tanpa harus kehilangan perannya sebagai ibu di dalam rumah.

Menurutnya, hal ini merupakan hasil dari gerakan feminisme. "Kalau perempuan tidak mengambil ruang untuk bekerja, terkadang persoalan ekonomi keluarga tidak teratasi," kata Evi.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara suami dan istri menjadi kunci utama. Tanpa adanya dukungan dan pembagian tugas yang adil di rumah, keterlibatan perempuan di sektor ekonomi akan berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka.

"Suami dan istri harus bekerja sama mengelola rumah tangga dengan membagi peran. Jika perempuan ikut mencari nafkah, sudah sepatutnya urusan rumah tangga tidak dipikul sendirian," pungkas

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....