Cara Sederhana Zahra Menjaga Dapur Usaha Tetap Hidup

  • 25 Mei 2026 20:30 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Lima tahun silam, Zahra (37) sempat dibuat kalang kabut akibat alarm meteran listrik rumahnya berbunyi saat membuat kue. Situasi itu kian pelik ketika gerai penjual token listrik terdekat tutup.

Kesunyian malam itu pun pecah oleh bunyi bip-bip-bip dari teras depan. Ancaman gelap gulita sempat memicu kepanikan yang nyaris membuat adonan kue berantakan. Beruntung, berkat gawainya situasi pun terkendali.

"Waktu itu serba bingung akhirnya aku telepon kawan. Gak lama dikirimlah nomor token lewat aplikasi pesan singkat," kata ibu tiga anak ini di rumahnya kawasan Kranggan, Palangka Raya, Sabtu 23 Mei 2026.

Dengan jemari yang sedikit gugup, deretan angka itu dia masukkan satu per satu. Begitu digit terakhir tuntas dan tombol hijau ditekan, kata “berhasil” muncul di layar meteran, membawa kelegaan yang memutus ketegangan.

Kejadian itu rupanya menyentak kesadarannya tentang digitalisasi. Terlebih, kebijakan pembatasan sosial akibat pandemi memaksa pelaku usaha untuk menjalankan bisnis dari rumah. Zahra mengenang, kembali peristiwa itu pada 2021 silam.

“Dulu sempat punya toko dan ikut pameran. Cuman setelah pandemi memutuskan dari rumah saja,” ungkapnya.

Sejak memindahkan seluruh aktivitasnya ke rumah, bisnisnya beralih menggunakan sistem pemesanan. Beraneka macam kue diproduksinya, mulai dari lapis legit, bolu, hingga brownies. Untuk harganya berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.

Dari usaha rumahan ini, ia mampu meraup omzet hingga Rp6 juta per bulan. Pendapatan tersebut sangat membantu menopang ekonomi keluarga, terlebih setelah suaminya mengambil pensiun dini sebagai ASN pada 2022 lalu.

Enggan mengulang drama serupa, pemilik usaha Kue Nay-Bil ini memutuskan bertumpu pada aplikasi BRImo. Langkah yang mulanya sederhana, rupanya berdampak bagi kelangsungan bisnisnya yang telah dirintis sejak 2017 lalu.

"Kalau sekarang, begitu meteran listrik mulai berbunyi, tinggal beli di aplikasi saja. Ini juga berkat saran dari teman sesama pelaku UMKM yang menolong mengirimkan token malam itu," ujarnya.

Keberhasilan Zahra dalam memanfaatkan teknologi perbankan digital ini bukan sekadar cerita sukses individu, melainkan cerminan dari geliat transformasi UMKM yang kian adaptif.

Akademisi Universitas Palangka Raya (UPR), Vivy Kristinae, menilai hadirnya berbagai fitur pada aplikasi besutan BRI berhasil menjawab kebutuhan pelaku UMKM dan masyarakat. Keunggulan tersebut dinilai sangat efektif dalam mengunci loyalitas nasabah.

Menurutnya, kebutuhan dasar seperti listrik menjadi penggerak utama dalam bisnis rumahan. Ketergantungan pada gerai token listrik di masa lalu menunjukkan betapa rentannya usaha mikro terhadap kendala teknis di luar jam kerja operasional.

“Dengan hadirnya aplikasi itu harusnya dapat menjadi solusi untuk operasional mereka. Apalagi, ini menyangkut kebutuhan dasar harian seperti listrik,” ujarnya.

Senada dengan pandangan tersebut, Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto mengatakan aplikasi tersebut telah menjadi bagian dari aktivitas keuangan sehari-hari para nasabah. Aplikasi ini terus dikembangkan untuk mendukung berbagai kebutuhan.

“BRImo tidak hanya mencerminkan perluasan jangkauan layanan digital, tetapi juga menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat dalam memanfaatkan layanan itu,” tutupnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....