Semangat Kartini Hidup di Masa Kini, Perempuan Berdaya di Berbagai Bidang
- 21 Apr 2026 22:12 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya – Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April menjadi momentum mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan, khususnya di bidang pendidikan. Nilai-nilai perjuangan tersebut terus hidup hingga kini, termasuk dalam berbagai profesi yang dijalani perempuan modern.
Di era digital, semangat Kartini tercermin melalui peran perempuan di Radio Republik Indonesia (RRI). Pengelola RRI Pro 2 Palangka Raya, Ahsanu Amalaa, menegaskan bahwa perempuan tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga agen perubahan di tengah masyarakat.
Ia menjelaskan, perempuan di dunia penyiaran memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi, hiburan, sekaligus membangun kesadaran publik.
“Perempuan di RRI tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan dengan semangat Kartini. Kami tidak hanya menginformasikan, tetapi juga mendidik dan menghibur dengan tujuan mencerdaskan generasi masa depan,” ujarnya, Selasa, 21 April 2026.
Menurutnya, nilai “Jas Merah” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah menjadi pengingat penting bagi perempuan untuk terus mengingat perjuangan masa lalu sebagai pijakan untuk melangkah ke depan.
Selain itu, RRI dinilai telah memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk berkembang. Berbagai posisi strategis dapat diisi perempuan, mulai dari penyiar, produser, penulis, hingga pengelola program. Ditambah dengan perkembangan teknologi multiplatform, perempuan kini memiliki peluang lebih besar untuk berkarya dan menjangkau audiens yang lebih luas.
“RRI memberikan kesempatan terbuka bagi perempuan untuk berekspresi dan berkembang. Dengan perkembangan teknologi, perempuan bisa lebih luas menjangkau masyarakat dan berkontribusi secara global,” ucapnya.
Semangat Kartini juga tercermin dari perempuan yang bekerja di sektor non-tradisional, seperti di SPBU. Martina dan Tiara, misalnya, menjalani pekerjaan yang penuh tantangan, mulai dari bekerja di bawah terik matahari hingga menghadapi paparan bau bahan bakar setiap hari.
"Sebagai perempuan bisa bekerja di SPBU kalau dalam semangat Kartini itu mewujudkan kesetaraan dan kemandirian, contohnya perempuan juga punya kesempatan untuk punya kesempatan untuk mandiri dan untuk berpenghasilan sendiri," ucap Martina.

"Kalau menurut aku, perannya yang biasanya perempuan itu terkenal sama manja. Tapi kalau bekerja di sini harus mandiri, harus bisa menampung dan menahan apa yang dirasa di lapangan," kata Tiara menambahkan.
Kisah mereka menjadi representasi nyata bahwa perjuangan perempuan masa kini tidak lagi terbatas pada satu sektor, melainkan hadir di berbagai lini kehidupan.
Pada akhirnya, peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat untuk terus mendorong perempuan Indonesia agar berani bermimpi, berkembang, dan mengambil peran strategis di berbagai bidang.
Perempuan diharapkan tidak ragu untuk bersuara dan menunjukkan potensi diri. Sejalan dengan semangat Kartini, perempuan bukan hanya tentang penampilan, tetapi tentang kemampuan untuk bergerak, memberi dampak, dan membawa perubahan bagi masyarakat. (Nor Saen Miftah Tariq)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....