Membelah Gelombang Kehidupan dengan Miniatur Perahu Enggang
- 14 Jun 2026 17:11 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Suara gemuruh air mendidih terdengar dari wadah pemanas listrik di sudut teras rumah Jalan Karandang IV, Kota Palangka Raya, Minggu, 7 Juni 2026. Jemari tangan Surtiati dengan cekatan merendam sebongkah getah dari pohon nyatu ke wadah tersebut.
Sambil membungkuk dari kursi kayunya, perempuan berusia 61 tahun itu menghirup dalam-dalam aroma sepat yang menguar dari getah nyatu. Aromanya seketika mengingatkan ia pada keputusan besar: melepas seragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) demi membangun usaha di bidang kerajinan tangan.
"Saya sebelumnya PNS di BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Provinsi Kalimantan Tengah sejak tahun 1992. Kemudian pada 1997, saya memutuskan untuk mengundurkan diri," katanya sambil mengenang momen tersebut.
Selepas itu, ia pun mengukuhkan usahanya dengan nama Rumah Produksi Pandji. Label itu diambil dari nama anak keduanya yang memiliki simbol kebesaran dan kebanggaan. Namun perjalanan membesarkan usahanya tersebut penuh liku.
Setahun setelah ia beralih profesi menjadi perajin, ujian berat datang. Pada 1998, rumah tangga Surtiati kandas, dan di saat bersamaan krisis moneter melanda negeri ini.
Ibu tiga anak tersebut dipaksa berdiri tegak dengan menyandang status baru sebagai 'petarung tunggal'. Seluruh sisa energinya saat itu ia tumpahkan untuk membuat miniatur perahu.
Pola tersebut sengaja dipilih karena perahu merupakan transportasi yang dekat dengan masyarakat Kalimantan. Pada bagian haluan, ujung perahu dibentuk menyerupai kepala burung enggang yang merupakan hewan endemik Pulau Borneo.
Perpaduan antara simbol transportasi air dan burung itu membuat karyanya mudah dikenali. Dia ingin mengabadikan cerita kehidupan masyarakat ke dalam bentuk karya seni.
Puncak dari segala peluhnya tiba pada Maret 2013, Surtiati terpilih membawa produk unggulannya ke panggung dunia di Jerman melalui ajang International Tourism Bourse. Ia menuturkan, saat itu ada sekitar 186 negara yang berartsipasi saat itu.
"Awalnya ada surat dari Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah atas arahan pemerintah pusat untuk berpartisipasi dalam ajang tersebut. Ini jadi momen pertama saya naik pesawat dan melakukan perjalanan ke luar negeri," katanya.
Di bawah pendar lampu sorot pameran internasional, perempuan berkerudung itu berdiri dengan bangga di samping miniatur perahu berhaluan enggang miliknya. Ia bercerita masyarakat Eropa tertarik tiap lekukan getah nyatu tersebut.
Saat itu, dunia seolah sedang berpihak pada jemari tuanya. Dari sebuah bengkel kerja kecil, karyanya melanglang buana, membawa alumnus SMAN 1 Palangka Raya itu ke puncak karier yang tak pernah ia duga semasa bekerja di kantor pemerintahan.
"Keadaan ekonomi saat itu sedang bagus. Pesanan dari toko suvenir juga banyak, makanya saya pikir ini merupakan jalan yang tepat," ujarnya sembari menunjukkan hasil kerajinannya.
Namun, roda nasib tak selalu berada di titik tertinggi. Hantaman pandemi COVID-19 pada 2020 membuat usahanya karam. Kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat pesanan miniaturnya sepi peminat.
Satu per satu pemilik toko suvenir meneleponnya untuk menghentikan pengiriman. Surtiati hanya bisa menatap tumpukan kotak kardus berisi belasan miniatur perahu diiringi raung sirine ambulans saat itu.
Namun, di sisi lain, dapurnya harus tetap mengepul dan urusan perut sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Demi bertahan hidup, ibu tiga anak ini pun menggunakan tabungannya.
Hasil penjualan karya selama bertahun-tahun menguap untuk membeli kebutuhan pokok. Dalam keputusasaan yang menghimpit, aroma getah nyatu di rumahnya sempat digantikan oleh wangi mentega dan vanila.
Jemari yang biasanya lincah membentuk miniatur paruh burung enggang, harus belepotan karena tepung terigu saat mencetak kue. Hasil penjualan itu ia gunakan untuk menghidupi keluarganya.
"Kue yang dibuat, saya titipkan ke warung di perkebunan sawit. Hasilnya mungkin tidak seberapa sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu tetapi cukup untuk makan," ucapnya dengan mata berlinang.
Surtiati akhirnya terjerat pinjaman dari rentenir pada 2021. Pengalaman pertama bermula dari angka Rp10 juta, sebuah pinjaman darurat yang berhasil ia lunasi meski dengan bunga yang mencekik.
Di tengah fase pemulihan ekonomi, dia kemudian mendapatkan pesanan dari salah satu instansi pemerintah dengan total proyek senilai Rp100 juta pada tahun 2022. Namun, sayangnya modalnya habis terkuras selama pandemi COVID-19.
Keputusasaan itu membuatnya mengajukan pinjaman kedua sebesar Rp80 juta untuk modal awal. Namun, hal tersebut justru mencekik keuntungannya saat pesanan selesai.
Dari total penjualan senilai Rp100 juta itu, dia hanya bisa membawa pulang keuntungan bersih sebesar Rp4 juta. Sebab, uang hasil penjualannya terkuras untuk melunasi utang yang membengkak menjadi Rp96 juta.
"Bunganya saat itu mencapai 20 persen. Makanya saya gak mau repot, saya langsung lunasi," ujarnya.
Ketegasan untuk lepas dari jerat rentenir harus dibayar mahal, mantan atlet voli ini terduduk lemas di lantai rumahnya sambil memandangi layar ponsel. Ia menyadari telah terjebak dalam lingkaran yang mengisap habis seluruh hasil keringatnya.
Titik balik yang dinanti akhirnya datang melalui Permodalan Nasional Madani (PNM) Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang merupakan binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Ia mendapatkan akses permodalan senilai Rp3 juta di tahun yang sama.
Baginya, modal usaha itu hadir tanpa agunan dengan bunga yang bersahabat dan sistem pendampingan. Uang itu segera ia belikan bahan baku getah nyatu.
Usahanya perlahan bangkit kembali. Suara dengung pemanas listrik kini kembali terdengar, mendidihkan air untuk melunakkan getah nyatu.

Rak-rak kayu yang sempat berdebu pun kini kembali penuh oleh pesanan perahu. Toko suvenir tempatnya bermitra juga sudah mulai menerima pasokan produknya kembali.
Untuk produknya, ia membanderol dari harga Rp35 ribu hingga Rp1,2 juta tergantung jenis dan ukuran. Kini, Surtiati berhasil membukukan omzet sekitar Rp10 juta per bulan.
"Untuk pemasaran dijual ke wilayah Kalimantan, Jawa, Sulawesi, hingga Sumatra. Kemarin ada klien dari Selandia Baru mau melihat produk saya, mudah-mudahan bisa rutin dikirim ke sana," katanya.
Perjalanan hidup yang keras telah membentuk dirinya menjadi perempuan tangguh. Baginya, selama air di pemanas listriknya masih bisa mendidih, miniatur perahu enggangnya akan selalu menemukan cara membelah gelombang kehidupan.
Ketangguhanya dalam merawat usaha ternyata berbanding lurus dengan kualitas karya yang dihasilkan. Hal inilah yang memikat pembeli, salah satunya Suryanto asal Sampit.
Suryanto mengatakan produk kerajinan getah nyatu milik Rumah Pandji memiliki tingkat kedetailan yang menarik. Ia sengaja membeli replika perahu tersebut untuk pajangan di ruang tamunya, sekaligus sebagai bentuk apresiasi terhadap seniman lokal.
"Harganya lumayan terjangkau. Kualitasnya juga bagus, dan detailnya sangat menarik," ungkapnya.
Kisah Surtiati yang terjerat rentenir bukan kasus tunggal, kejadian tersebut juga kerap dialami pelaku UMKM lainnya. Pakar ekonomi dari Universitas Palangka Raya, Fitria Husnatarina, menilai pola yang digunakan rentenir umumnya menawarkan pencairan yang mudah tanpa agunan.
Menurutnya, saat tekanan ekonomi mendesak, kemudahan rentenir dianggap sebagai solusi, padahal hal itu adalah awal dari siklus utang yang tak berujung. Upaya itulah yang harus dipahami masyarakat.
"Berbagai skema pembiayaan pemerintah seharusnya mampu memutus ketergantungan pada rentenir. Syaratnya, harus dibarengi dengan edukasi finansial," ujar Fitria.
Sementara itu, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyebut, program PNM Mekaar menjadi instrumen penting untuk meningkatkan kapasitas usaha perempuan serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
“Sinergi Holding Ultra Mikro (UMi) antara BRI, Pegadaian, dan PNM menjadi kekuatan dalam memperluas akses layanan keuangan yang inklusif. Dengan dukungan tersebut, pelaku usaha mikro kecil di banyak daerah dapat berkembang,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....