Sampah dan Kinerja Sistem Irigasi

  • 06 Jun 2024 14:02 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Keberadaan sampah merupakan salah satu permasalahan yang dijumpai pada sumber seperti sungai dan infrastruktur sumber daya air seperti jaringan irigasi. Padahal sampah dapat berimbas pada kualitas air yang cenderung menurun, penyumbatan, banjir, mempengaruhi kualitas kesehatan dan menghalangi arus air.

Permasalahan sampai yang dirasakan Pengamat Pengairan Kediri Kabupaten Lombok Barat Ibu Ida Sulyaningsih, SE. sangat mengganggu suplai dari sungai ke jaringan irigasi karena air tidak bisa mengalir secara maksimal, ditambah debit air yang semakin menurun terutama pada Musim Tanam II dan III. Permasalahan yang sama juga dirasakan hampir seluruh Pengamat Pengairan maupun perkumpulan petani pemakai air dan menjadi bahan diskusi pada saat kegiatan wadah kelembagaan pengelolaan irigasi yaitu Komisi Irigasi Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Salah satu faktor adalah tingkat kesadaran masyarakat yang kurang untuk tidak membuang sampah. Seringkali tempat terbuka atau sumber air seperti sungai menjadi lokasi membuang sampah. Sampah yang dibuang ini terbawa oleh air hujan maupun mengikuti arus ungai dari hulu ke hilir terbawa masuk ke drainase maupun jaringan irigasi hingga ke petak tersier. Salah satu penelitian mengenai sampai di Jaringan Irigasi pada Daerah Irigasi Cipicung yang dilakukan oleh Deny Ernawan dkk (2023) menyimpulkan bahwa sampah padat memiliki pengaruh besar untuk penyumbatan saluran, pendangkalan, pencemaran air, overtopping (pelimpasan) banjir saat hujan tiba hingga kurang optimalnya kinerja saluran irigasi. Penelitian lain oleh Salehudin dkk (2021) pada Daerah Irigasi Ireng Daye menyatakan bahwa membuang sampah di saluran irigasi dapat menyebabkan penurunan kinerja pada Daerah Irigasi Ireng Daye.

Sampah padat pada saluran irigasi akan berdampak konstruksi saluran irigasi, kinerja saluran irigasi dan distribusi air irigasi (Ernawan, 2023). Dampak sampah pada konstruksi saluran irigasi bersamaan dengan sedimen mengalami penyempitan dan memunculkan scouring air, penyumbatan aliran air di saluran, overflow debit air dan overtopping (banjir). Keberadaan sampah mempengaruhi saluran irigasi karena menyebabkan penyumbatan dan kehilangan air, banjir, dan pengoperasian pintu air macet. Sedangkan dampak pada distribusi air irigasi antara lain adalah debit air berkurang dan terganggunya pasokan air ke petak tersier. Adanya sistem giliran yang digunakan pada pembagian air dengan pengaturan jumlah dan waktu distribusi air juga akan berdampak dengan keberadaan sampah pada jaringan dan bangunan irigasi.

"Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran, mau bergotong-royong dan tidak lagi membuang sampah sembarangan salah satunya pada jaringan dan bangunan irigasi" papar Pengamat Pengairan Kediri. Selain itu, diperlukan adanya pemasangan sarana alat penyaring sampah seperti jeruji dan jaring sampah untuk meminimalisir sampah. Sampah ini kemudian bisa diangkut secara gotong-royong maupun dikoordinasikan dengan Dinas terkait seperti Dinas Lingkungan HIdup untuk proses pengangkutannya secara rutin. Kegiatan operasi dan pemeliharaan pada daerah irigasi juga sangat diperlukan untuk mendukung kinerja sistem irigasi terutama dari sisi ketersediaan air untuk mewujudkan NTB Berdaulat Pangan.

Oleh: Juraedah Dwi Anggraeni, ST, M.Sc., Dinas PUPR Provinsi NTB/Wakil Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia NTB.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....