Lestarikan Bahasa Ibu, Lestarikan Identitas Jati Diri
- 30 Agt 2026 16:07 WIB
- Nunukan
Poin Utama
- Pentingnya menjaga kelestarian bahasa ibu
- Upaya pelestarian Bahasa Tidung agar eksistensinya tetap terjaga
- Perjuangan menjadikan Bahasa Tidung sebagai mata pelajaran muatan lokal
RRI.CO.ID, Nunukan: Budaya melekat erat dengan identitas jati diri suatu masyarakat yang telah mengakar sejak lama, begitu juga dengan budaya Suku Tidung. Suku Tidung merupakan suku asli yang menempati daratan bagian utara Pulau Kalimantan
Terkait dengan hal itu, RRI Nunukan dalam Program Obrolan Budaya bersama Tim Pengembang Seni Budaya Suku Tidung, Arbain, S.Pd dan Herison, S.Pd, membahas topik mengenai “Lestarikan Bahasa Ibu.”
Ketika berbicara soal bahasa, yang sering muncul pertama kali dalam benak kita adalah sederetan kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi. Memang tidak salah, akan tetapi bahasa lebih dari sekedar kumpulan kata.
Ada berbagai nilai yang terkandung di dalam bahasa, diantaranya ada nilai sejarah, identitas dan harga diri dari sebuah suku bangsa yang diwariskan dari nenek moyang.
“Bahasa itu bukan kita karang sendiri atau kita buat sendiri. Bahasa dihasilkan oleh kebiasaan dan budaya masyarakat zaman dulu dan kemudian diwariskan dari leluhur dari nenek moyang ke kita,” Jelas Arbain.
Akan tetapi, tantangan yang dihadapi untuk melestarikan bahasa ibu ternyata cukup besar. Sebab, Generasi saat ini lebih fasih menggunakan bahasa lain selain bahasa ibu termasuk Bahasa Tidung.
Bahasa Tidung itu telah digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat suku Tidung. Misalnya digunakan dalam upacara adat, adat istiadat perkawinan dan pengobatan. Sehingga, apabila Bahasa Tidung benar-benar punah, maka yang dipertaruhkan adalah identitas jati diri sebagai masyarakat Tidung.
Beberapa upaya tengah dilakukan untuk memastikan eksistensi Bahasa Tidung tetap terjaga. Misalnya dengan membuat konten sosial media bernuansa budaya Tidung, untuk menarik generasi muda Suku Tidung. Tujuannya agar mereka lebih familiar dan bisa memantik keinginan untuk mempelajari, menggunakan dan melestarikan bahasanya sendiri.
“Kami sudah ada beberapa sih yang memang membuat konten-konten yang bernuansa bahasa tidung seperti Lengkuas, nah itu kan dialek-dialeknya, bahasanya itu tidak lepas dari kesehariannya lengkuas,” ungkap Herison.
Selain itu, program nasional berupa revitalisasi bahasa juga diikuti oleh tim pengembang seni budaya Suku Tidung. Ada beberapa kompetisi yang dilombakan tiap tahunnya, seperti dongeng cerita-cerita anak, tembang lagu, pidato, puisi dan pantun. Tentu ini adalah kesempatan yang bagus untuk melestarikan sekaligus mengenalkan bahasa Tidung pada masyarakat suku lain di Indonesia
Lebih jauh lagi, demi menjaga agar Bahasa Tidung tetap terjaga, saat ini tengah diperjuangkan supaya Bahasa Tidung bisa secara resmi masuk ke dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di Nunukan, dengan harapan bahasa ibu ini bisa terus diwariskan turun temurun ke generasi-generasi selanjutnya. Mari terus lestarikan dan bumikan Bahasa Tidung agar identitas dan jati diri Suku Tidung tetap lestari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....