Etnis Dayak dan NTT Sepakat Damai Pasca-Provokasi Akun Luar Negeri

  • 28 Agt 2026 13:27 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID Nunukan: Ketegangan di media sosial yang sempat memicu gesekan antara warga etnis Dayak dan Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kabupaten Nunukan resmi berakhir. Penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh aparat kepolisian memastikan bahwa unggahan provokatif tersebut murni merupakan rekayasa akun palsu dari luar negeri.

Ketua Forum Masyarakat Adat Lintas Etnis (Formaline) Kabupaten Nunukan, Sumari menyatakan bahwa warga etnis Dayak dan etnis NTT telah sepakat untuk tidak mempermasalahkan ketegangan yang sempat terjadi di dunia maya beberapa waktu lalu. Pihak kepolisian melalui hasil investigasi presisi berhasil melacak nomor kontak pelaku hingga ke luar negeri, yakni Polandia dan Chicago, Amerika Serikat.

"Warga NTT dan suku Dayak sama-sama menjadi korban fitnah dari provokasi dunia maya. Pelaku sengaja mencatut identitas kelompok tertentu menggunakan akun bodong lintas negara untuk memecah belah kerukunan warga perbatasan." ujar Ambrosius Lawe Tukan (Ketua Kerukunan Keluarga Nusa Tenggara Timur-K2NTT Kabupaten Nunukan). Kamis (27.08/2026).

Menindaklanjuti temuan tersebut, para tokoh adat dari kedua belah pihak langsung menggelar pertemuan tertutup di kediaman Ketua Lembaga Adat Dayak, Heri Agung. Organisasi Formaline bersama para tokoh masyarakat mengambil peran aktif menjembatani komunikasi agar masyarakat di tingkat akar rumput tidak mudah terprovokasi oleh isu SARA yang menyesatkan.

Dalam pertemuan bersama tokoh adat Dayak seperti Ketua Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) dan Heri Agung, pihak K2NTT menyerahkan sepenuhnya mekanisme pemulihan adat kepada kearifan lokal masyarakat Dayak. Pemerintah Kabupaten Nunukan bersama unsur Forkopimda, akan bertindak sebagai fasilitator logistik berupa penumpahan darah hewan agar prosesi adat berjalan netral tanpa membebani pihak manapun.

"Atas permintaan tokoh adat Dayak, prosesi pemulihan dan penyatuan tersebut sengaja tidak dilaksanakan di dalam kantor pemerintahan, tetapi dilaksanakan di ruang publik terbuka agar dapat disaksikan langsung oleh masyarakat luas." Kata Ambrosius, sesuai permintaan Perwakilan Tokoh Adat Dayak.

Rangkaian penyelesaian damai ini diharapkan menjadi teladan efektif dalam menangkal isu SARA di wilayah perbatasan Indonesia melalui kolaborasi penegakan hukum yang transparan dan penguatan literasi digital di tengah masyarakat. MM

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....