IABI Analisis Gempa M7,1 Kumamoto: Dipicu Sesar Hinagu, Berulang setelah 10 Tahun

  • 29 Jul 2026 09:32 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Gempa bumi kuat berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa (28/7/2026). Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menganalisis, pusat gempa tersebut diduga kuat berasosiasi dengan Zona Sesar Hinagu, tepat di sebelah barat daya dari segmen yang pecah 10 tahun silam.

Awalnya, peristiwa seismik ini dilaporkan berukuran M6,8 yang mengguncang Pulau Kyushu dan memicu kepanikan warga di Kumamoto. Gempa yang terjadi sekitar pukul 14.27 WIB tersebut berpusat di darat pada koordinat 32,682° LU dan 130,722° BT—sekitar 5 km sebelah timur Kota Uto dan 4 km tenggara Uki.

Gempa dangkal berkedalaman 10 km ini memicu guncangan tanah (ground shaking) yang sangat ekstrem. Seiring masuknya pembaruan data, Badan Meteorologi Jepang (JMA) memutakhirkan parameter kekuatan gempa menjadi M7,1.

Dilihat dari konfigurasinya, gempa ini berada dalam satu sistem zona sesar dengan peristiwa gempa besar M7,0 yang pernah mengguncang Kumamoto pada 2016 lalu. Anggota IABI, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa pusat gempa kali ini diduga kuat berasosiasi dengan Zona Sesar Hinagu, tepat di sebelah barat daya dari segmen yang pecah satu dekade silam.

Struktur Sesar Hinagu merupakan sesar aktif di darat yang membentang dari wilayah tengah hingga barat daya Prefektur Kumamoto.

"Secara tektonik, sesar ini berkarakteristik geser mendatar mengiri (left-lateral strike-slip) dengan sedikit komponen vertikal (oblique-normal). Sesar Hinagu tersambung langsung dengan Sesar Futagawa di bagian utara, di mana kedua struktur ini menjadi kompartemen utama yang menyerap akumulasi energi tektonik regional Pulau Kyushu," ujar Daryono dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/7/2026).

Para pakar seismologi memperingatkan bahwa pelepasan energi pada gempa ini belum tentu menandakan akhir dari aktivitas seismik. Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah seluruh tegangan batuan telah terlepaskan atau justru masih menyisakan tekanan terkunci pada segmen bagian selatan.

Daryono menambahkan, apabila akumulasi tegangan di segmen selatan tersebut masih tersimpan, potensi kemunculan gempa susulan yang cukup kuat tetap terbuka. Kondisi tersebut dapat mengulang pola krisis seismik beruntun sebagaimana rentetan gempa Kumamoto pada 2016.

"Atas dasar ini, masyarakat beserta otoritas lokal diimbau untuk terus berada dalam tingkat kewaspadaan tertinggi," tambahnya.

Dampak guncangan dilaporkan merusak sejumlah infrastruktur publik hingga kawasan permukiman warga secara masif. Bahkan, Kastil Kumamoto (Kumamoto Castle) yang bersejarah dan berusia 400 tahun turut mengalami kerusakan berat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....