Apa yang Berubah Setelah Iduladha?

  • 01 Jun 2026 06:29 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Hari Raya Iduladha bukan hanya perayaan tahunan yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Iduladha merupakan momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Ustaz Muamar Kadafi saat menjadi narasumber acara Mutiara Pagi RRI Nunukan mengatakan, Allah SWT telah mengingatkan umat manusia dalam Surah Al-Hajj ayat 37 bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging maupun darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dan ketaatan hamba-Nya.

“Allah mengingatkan dalam Surah Al-Hajj ayat 37, bahwa yang sampai kepada Allah adalah buah ketaatan kita kepada-Nya. Jadi Iduladha bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi juga penyembelihan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita,” ujarnya pada Senin (1/6/2026).

Ia mengajak umat Islam untuk melakukan introspeksi setelah Iduladha. Menurutnya, ukuran keberhasilan seseorang dalam mengambil hikmah Iduladha bukanlah banyaknya hewan yang dikurbankan, melainkan perubahan sikap dan perilaku setelahnya.

“Setelah Iduladha, apakah kita menjadi lebih rajin salat? Apakah hati kita menjadi lebih lembut? Apakah kita menjadi lebih baik kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar? Itulah pertanyaan yang harus kita jawab,” katanya.

Ustaz Muamar menjelaskan bahwa Iduladha mengajarkan tentang ketaatan tanpa syarat dan tanpa negosiasi. Keteladanan tersebut dapat dilihat dari kisah Nabi Ibrahim AS yang menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya tanpa keraguan.

“Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, beliau menerima perintah itu tanpa negosiasi. Begitu pula Nabi Ismail AS, dengan penuh ketakwaan dan ketaatan, memudahkan jalan pelaksanaan perintah Allah tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, semangat inilah yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Perintah Allah hendaknya dilaksanakan tanpa tawar-menawar dan tanpa mencari alasan untuk menghindarinya.

Ia juga menegaskan bahwa salah satu ciri mukmin sejati adalah mampu mengesampingkan kepentingan pribadi demi menjalankan perintah Allah SWT. Namun dalam realitas kehidupan saat ini, banyak orang justru lebih mengutamakan kepentingan dirinya dibandingkan kepentingan agama.

“Sering kali kepentingan pribadi kita letakkan di atas segala-galanya. Padahal ciri orang beriman adalah ketika kepentingan Allah dan agama-Nya lebih diutamakan daripada kepentingan dirinya sendiri,” tuturnya.

Selain mengajarkan ketaatan, Iduladha juga mendidik umat Islam untuk memiliki kepedulian sosial. Melalui ibadah kurban, umat diajak untuk berbagi dan merasakan kebahagiaan bersama orang lain.

“Iduladha mendidik kita agar tidak hidup sendiri. Pertanyaannya, setelah Iduladha apakah kita masih peduli kepada saudara, tetangga, dan masyarakat di sekitar kita?” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustaz Muamar mengajak masyarakat untuk terus bermuhasabah atau mengevaluasi diri. Ia mengingatkan bahwa rasa memiliki yang berlebihan terhadap harta dan dunia dapat melahirkan kesombongan dalam hati.

“Ketika diri masih dihiasi dengan rasa kepemilikan yang berlebihan, maka akan muncul kesombongan. Karena itu, Iduladha mengajarkan kita untuk melepaskan keterikatan yang berlebihan terhadap dunia,” katanya.

Ia berharap semangat Iduladha dapat terus hidup dalam keseharian umat Islam, tidak hanya dalam menjalankan kewajiban, tetapi juga dalam mengamalkan berbagai ibadah sunnah sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT.

“Minimal kita berusaha melaksanakan perintah Allah secara kaffah, secara menyeluruh, tanpa banyak alasan. Bukan hanya yang wajib, tetapi juga yang sunnah. Karena sejatinya, apa yang kita kurbankan di jalan Allah jauh lebih bernilai daripada harta yang kita kumpulkan,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....