BMKG Peringatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla di Nunukan

  • 21 Mei 2026 06:56 WIB
  •  Nunukan
Poin Utama
  • Sektor perkebunan dan rumput laut di Nunukan terancam dampak penurunan curah hujan serta anomali suhu laut.
  • Ketersediaan air baku di embung penampungan diprediksi merosot tajam mulai awal Juni 2026.
  • BMKG memperingatkan peningkatan potensi titik panas (hotspot) dan melarang keras aktivitas pembakaran lahan.

RRI.CO.ID, Nunukan - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperingatkan sejumlah sektor vital di Nunukan terkait ancaman kekeringan ekstrem. Peringatan dini ini mencakup sektor perkebunan, budidaya rumput laut, hingga ketersediaan air bersih masyarakat.

Penurunan kadar air tanah dan anomali suhu di laut Sulawesi mulai menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut diprediksi akan memicu gangguan pada produksi komoditas unggulan dan pasokan air baku daerah. Hal ini disampaikan Forecaster Klimatologi Stasiun Meteorologi Kelas III Tanjung Harapan, Farid Hardiansyah.

"Untuk dampak bagi sektor-sektor di Nunukan, mulai dari perkebunan harus mulai waspada penurunan kadar air tanah di awal Juni, dan harus pastikan pembersihan lahan dengan cara membakar itu tidak dilakukan karena vegetasi sudah mulai mengering," katanya.

Anomali suhu permukaan laut yang mencapai 2 derajat Celsius berisiko mengubah tingkat salinitas air laut secara mendadak. Hal ini menjadi tantangan serius bagi para pembudidaya rumput laut yang sangat bergantung pada stabilitas parameter air.

Selain itu, minimnya curah hujan akan membuat debit air di embung-embung penampungan berkurang secara signifikan dan cepat. Masyarakat pun diminta untuk mulai melakukan manajemen penggunaan air secara mandiri guna mengantisipasi krisis air bersih.

"Untuk sektor rumput laut, perlu diantisipasi juga perubahan salinitas di permukaan laut. Data kami menunjukkan adanya anomali suhu laut 0,5-2 °C di laut Sulawesi yang bisa memicu penguapan tinggi. Untuk air bersih, penurunan curah hujan di awal Juni nanti akan berdampak pada ketersediaan air baku di embung-embung penampungan," ujarnya.

Peningkatan titik panas di wilayah Bulungan dan Nunukan menjadi fokus utama pemantauan intensif pihak berwenang saat ini. Sinergi antara masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan.

"Kami imbau masyarakat mulai bijak menggunakan air dan juga potensi karhutla. Dengan prediksi curah hujan rendah di awal Juni, potensi hotspot akan meningkat di wilayah Bulungan dan Nunukan," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....