Waspada El Nino 'Godzilla', Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Ekstrem

  • 09 Apr 2026 10:12 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan-Beberapa waktu terakhir muncul istilah El Nino 'Godzilla' yang diprediksi akan terjadi di Indonesia. El Nino 'Godzilla' merujuk pada fenomena El Nino dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari biasanya.

Dalam kondisi normal, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur di atas rata-rata normal. Fenomena ini disebut 'Godzilla' lantaran skalanya yang raksasa serta kekuatannya yang mampu mengacaukan pola cuaca global secara signifikan.

Fenomena ini menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950. Meskipun bukan jenis baru, fenomena ini dapat memicu kekeringan luas, krisis air, hingga gangguan pangan jika terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif.

Ketika fenomena ini menguat, pola pembentukan awan dan hujan ikut berubah. Awan cenderung terkonsentrasi di wilayah Samudra Pasifik, sehingga wilayah seperti Indonesia justru mengalami pengurangan awan dan curah hujan sehingga memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi El Nino 'Godzilla' terjadi di Indonesia mulai April hingga Oktober 2026. Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menjelaskan, fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu hingga sekitar 1,5 hingga 2 derajat Celsius.

Kenaikan ini memang tidak terjadi secara instan, tetapi akan terasa seiring penguatan fenomena yang dimulai dari awal kemunculannya. Prof Erma menambahkan, fenomena El Nino ini diprediksi akan terjadi bersamaan dengan IOD positif, yang semakin memperkuat dampaknya di Indonesia.

IOD positif ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar wilayah barat Indonesia, terutama dekat Sumatra dan Jawa. Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan semakin berkurang di wilayah tersebut, sehingga curah hujan menurun drastis.

Fenomena El Nino kuat dan IOD positif inilah yang berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering dari biasanya. Sinyal kemunculan El Nino diperkirakan mulai terlihat pada April 2026.

Pada fase awal ini, curah hujan masih bisa terjadi, terutama hingga akhir Maret. Namun memasuki April, intensitas hujan diprediksi mulai berkurang secara bertahap.

Awan semakin sedikit, dan kondisi cuaca akan beralih menjadi lebih kering. Inilah yang menjadi tanda awal masuknya periode kemarau yang lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hujan Masih Terjadi Sebelum Kemarau Ekstrem

Meski prediksi El Nino mulai muncul pada April 2026, kondisi cuaca tidak langsung berubah drastis. Hingga akhir Maret, hujan masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Namun setelah memasuki April, intensitas hujan diperkirakan akan mulai berkurang secara signifikan. Seiring berjalannya waktu, kondisi akan semakin kering dengan dominasi cuaca panas di siang hari.

Dampak fenomena ini tidak akan dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Di wilayah selatan ekuator, seperti sebagian besar Pulau Jawa dan Sumatra, kondisi kering berpotensi lebih dominan yang bisa memicu kekeringan, suhu udara yang lebih panas, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Sementara itu, di wilayah utara ekuator, seperti sebagian Kalimantan dan Sumatra bagian utara, justru ada kemungkinan terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan bisa memicu banjir.

Sumber: bpbd.bulelengkab.go.id dan sda.pu.go.id

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....